
Keempat atlet cilik yang akan berangkat Kejurnas, termasuk Al Risky (Kanan), Jumat (10/7/2026), (foto:dok.Arkan Camp).
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Semangat pantang menyerah ditunjukkan seorang atlet cilik asal Kutai Kartanegara (Kukar) demi mewujudkan impiannya tampil di ajang Indonesia Muaythai Championship (IMC) 2026.
Di tengah keterbatasan ekonomi, ia rela bekerja sebagai badut di kawasan Titik Nol dan Timbau, Kecamatan Tenggarong untuk mengumpulkan biaya keberangkatannya ke Kejuaraan Nasional yang akan digelar di Bekasi pada 4-9 Agustus 2026.
Kisah ini diungkapkan Pembina, sekaligus Pelatih Arkan Camp, Rony Abdurrahman, yang menyebut ada 4 atlet cilik binaannya siap bertanding membawa nama Kukar di ajang nasional tersebut.
Keempat atlet tersebut adalah Chalista Alfarida Ab (10) yang akan bertanding di kelas 30 kilogram, M. Angkasa Ab (13) di kelas 36 kilogram, Sandiego (11) di kelas 30 kilogram, dan Al Risky Aulia Winata (12) di kelas 30 kilogram.
Ia mengatakan, seluruh keberangkatan atlet dilakukan secara mandiri karena keterbatasan anggaran pemerintah untuk mendukung kejuaraan di luar agenda prioritas.
"Dengan biaya mandiri kami memberanikan diri berangkat ke kejuaraan ini. Kapan lagi anak-anak bisa menguji kemampuan mereka kalau hanya menunggu bantuan dari daerah. Kami bersama orangtua atlet berinisiatif berangkat sendiri demi mengejar prestasi mereka," ujarnya kepada KutaiRaya.com, Jumat (10/7/2026).
Pada awalnya hanya 3 atlet yang dipastikan berangkat, yakni Angkasa, Chalista, dan Sandiego.
Namun tekad kuat Al Risky untuk ikut bertanding membuat dirinya tergerak membantu.
Ia menuturkan Al Risky berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Meskipun demikian, semangatnya untuk berlatih tidak pernah surut.
Setiap hari ia tetap mengikuti latihan pagi dan sore sambil berusaha mengumpulkan biaya sendiri.
"Al Risky punya tekad yang luar biasa. Dia ingin mengejar mimpinya tampil di kejurnas. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dia mengumpulkan uang hasil bekerja menjadi badut di kawasan Titik Nol dan Timbau. Itu yang benar-benar mengetuk hati saya," ujarnya.
Melihat perjuangan atlet binaannya tersebut, ia akhirnya berusaha membantu agar Al Risky juga dapat berangkat bersama rekan-rekannya.
"Di tengah efisiensi anggaran yang kami rasakan, kami tetap berusaha membantu keberangkatan Al Risky semampu kami. Rencananya kami akan berangkat ke Bekasi menggunakan kapal laut agar biaya perjalanan lebih terjangkau," katanya.
Ia berharap keempat atlet muda tersebut mampu memberikan hasil terbaik, sekaligus membawa pulang prestasi untuk Kukar.
"Semoga 4 petarung cilik ini pulang membawa kemenangan dan menjadi kebanggaan daerah," ucapnya penuh harap.
Lebih dari sekedar mengejar medali, ia menilai kisah Al Risky menjadi bukti bahwa banyak anak berbakat yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.
"Di sini kita bisa melihat bahwa demi masa depan generasi muda, mereka membutuhkan perhatian khusus, terutama dari orang-orang terdekat, masyarakat, hingga pemerintah. Jangan sampai semangat mereka padam hanya karena keterbatasan biaya," tuturnya.
Sementara itu Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar, Rita Agustina, menjelaskan kondisi efisiensi anggaran membuat pemerintah daerah belum bisa mengakomodasi seluruh kebutuhan atlet yang akan mengikuti berbagai kejuaraan.
Ia mengatakan, saat ini prioritas anggaran pembinaan olahraga masih difokuskan untuk persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim.
"Kalau kondisi anggaran memungkinkan tentu bisa kami akomodasi. Namun saat ini yang menjadi prioritas adalah kebutuhan persiapan Porprov, termasuk perlengkapan atlet. Hal itu juga sudah dibahas bersama KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dalam ekspos sebelumnya," tuturnya. (*zar)