
Plt Kepala Disdikbud Kota Samarinda, Ibnu Araby ditemui di sela acara, Jum
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Rencana renovasi 15 sekolah di Kota Samarinda pada 2027 masih menunggu kepastian anggaran. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda menyatakan jumlah sekolah yang akan direhabilitasi masih dapat berubah mengikuti kemampuan keuangan daerah saat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2027.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Kota Samarinda, Ibnu Araby, mengatakan usulan rehabilitasi sekolah saat ini masih dalam tahap perencanaan dan belum dapat dipastikan seluruhnya terealisasi.
Menurutnya, kondisi anggaran pada 2026 yang terdampak efisiensi menjadi pelajaran sehingga sejumlah program harus ditunda dan dialihkan melalui skema lain, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) dan program revitalisasi.
"Terkait anggaran 2027 kita masih menunggu. Tahun 2026 saja sudah masuk efisiensi sehingga banyak yang tertunda. Akhirnya kita berusaha lewat DAK dan revitalisasi. Nah, untuk 2027 ini masih berupa usulan," katanya, Jumat (10/7/26).
Ia menjelaskan, daftar sekolah yang diusulkan merupakan hasil pengajuan proposal dari masing-masing sekolah yang kemudian diverifikasi Disdikbud agar memastikan kondisi bangunan yang memang membutuhkan rehabilitasi.
"Sekolah-sekolah itu mengajukan proposal, kemudian kita cek di lapangan mana yang memang semestinya dilakukan rehabilitasi atau perbaikan. Sekarang kita masih menunggu anggaran 2027. Kalau memungkinkan, mungkin semua terakomodasi. Tapi kalau tidak memungkinkan, bisa ada yang tertinggal atau jumlahnya berkurang," ujarnya.
Dirinya mengungkapkan, hingga saat ini jumlah sekolah yang membutuhkan rehabilitasi masih terus berkembang. Bahkan, dari hasil peninjauan lapangan terbaru, pihaknya kembali menemukan dua sekolah yang membutuhkan perbaikan di luar daftar usulan sebelumnya.
"Sampai hari ini masih berkembang. Kemarin saya ke lapangan dan menemukan dua sekolah lagi yang membutuhkan perbaikan di luar rencana 2027. Jadi datanya masih terus berkembang," katanya.
Meski telah menyusun rencana anggaran, Disdikbud belum dapat memastikan besaran dana yang akan dialokasikan karena masih menunggu pembahasan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan DPRD Kota Samarinda.
Menurutnya, besaran anggaran yang diajukan masih berpotensi berubah saat pembahasan APBD.
"Misalnya kita programkan satu miliar rupiah, nanti saat penetapan anggaran kita belum tahu apakah tetap satu miliar, turun menjadi setengah miliar, atau bahkan bisa bertambah. Itu nanti melalui proses asistensi dengan tim anggaran, baik eksekutif maupun legislatif," jelasnya.
Ia berharap, kondisi keuangan daerah pada 2027 lebih baik dibanding tahun ini sehingga seluruh usulan rehabilitasi sekolah dapat direalisasikan.
"Kalau anggaran normal, tentu harapan kita semua usulan bisa diselesaikan. Tapi kalau kondisinya seperti 2026, bisa saja dari 15 sekolah hanya 10 yang bisa dikerjakan, atau nilai rehabilitasinya dikurangi. Misalnya harusnya memperbaiki empat ruang kelas, akhirnya hanya dua ruang," tuturnya.
Terkait SMP Negeri 24 Samarinda yang direhabilitasi, Ia mengatakan peluang sekolah tersebut agar mendapatkan perbaikan tetap terbuka apabila didukung kondisi anggaran.
"Kita berdoa saja, tergantung anggaran. Saya maunya semua selesai. Tapi saya tidak berani memastikan sekolah mana yang pasti dikerjakan pada 2027. Semua kembali melihat kemampuan anggaran dan skala prioritas," katanya.
Meski demikian, ia menegaskan seluruh kebutuhan rehabilitasi sekolah merupakan prioritas pemerintah daerah.
"Semua perbaikan sekolah masuk prioritas. Tidak ada yang tidak prioritas. Untuk pendidikan semuanya prioritas," tegasnya. (*Yud)