• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Masyarakat yang tengah bermain Gasing Kutai di Coffe Komunitas, Jumat (3/7/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Semangat melestarikan permainan tradisional menggema di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Melalui kegiatan Malam Budaya dan Permainan Tradisional yang digelar di Coffee Komunitas, Jumat (3/7/2026) malam, Komunitas Gasing Kutai bersama Coffee Komunitas mengajak masyarakat untuk mengenal, sekaligus memainkan gasing Kutai.

Pada malam itu, Coffee Komunitas dipenuhi pengunjung dari berbagai kalangan yang sangat antusias menyaksikan permainan tradisional khas Kutai.

Tak hanya menyaksikan permainan gasing, masyarakat juga diajak mencoba langsung untuk bermain gasing tradisional yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Kutai.

Bagi Komunitas Gasing Kutai, kegiatan ini bukan sekadar hiburan, acara ini menjadi upaya agar permainan tradisional tidak hilang di zaman sekarang.

Ketua Komunitas Gasing Kutai, Anto Sugiwara mengatakan, permainan gasing sebenarnya telah berkembang di berbagai daerah di Indonesia dengan nama dan karakteristik yang berbeda.

Bahkan, olahraga tradisional ini sudah memiliki standar nasional melalui Induk Organisasi Olahraga (Inorga).

"Di setiap daerah namanya berbeda-beda. Di Sulawesi ada, di Riau juga ada. Gasing ini sebenarnya sudah masuk tingkat nasional dan sudah memiliki standar. Hanya saja, selama ini kurang dipromosikan sehingga belum banyak dikenal masyarakat," ujarnya kepada KutaiRaya.com, Jumat (3/7/2026).

Gasing Kutai memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain.

Salah satunya adalah penggunaan kayu ulin sebagai bahan utama pembuatan gasing, yang menjadi ciri khas Kalimantan.

"Gasing kita ini memiliki jenis yang paling lengkap. Salah satu keunggulannya menggunakan kayu ulin yang menjadi kekhasan daerah kita. Ini yang harus terus kita angkat agar semakin dikenal," katanya.

Ia mengemukakan, semakin banyak masyarakat yang memainkan gasing, maka peluang lahirnya atlet-atlet baru juga akan semakin besar.

Hal itu sekaligus membuka peluang agar Gasing Kutai semakin diperhitungkan di tingkat nasional.

Namun, pelestarian permainan tradisional tidak cukup hanya melalui komunitas.

Dukungan pemerintah juga sangat diperlukan agar pembinaan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Salah satu harapannya, permainan tradisional ini dapat masuk ke dalam ekstrakurikuler (ekskul) sekolah.

"Kami berharap gasing bisa menjadi salah satu ekstrakurikuler di sekolah. Selama ini sekolah identik dengan olahraga modern, padahal permainan tradisional juga memiliki nilai olahraga, melatih konsentrasi, sportivitas, ketelitian, dan menjadi bagian dari identitas budaya daerah," ucapnya.

Apabila permainan tradisional mulai dikenalkan sejak usia sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler, dalam beberapa tahun ke depan akan lahir generasi muda yang mampu menjaga sekaligus mengembangkan.

Namun, ia menyadari kebijakan memasukkan gasing ke dalam ekstrakurikuler merupakan kewenangan pemerintah.

Sehingga pihaknya menyatakan siap bersinergi, apabila mendapat dukungan.

"Itu memang ranah pemerintah, tetapi kami siap membantu. Tujuan kami hanya satu, bagaimana permainan tradisional ini tetap hidup. Kalau pemerintah dan masyarakat bisa berjalan bersama, saya yakin pelestarian budaya akan lebih mudah dilakukan," tuturnya.

Sementara itu salah seorang pengunjung yang langsung merasakan permainan Gasing Kutai, Wildan Maulana mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan masyarakat, khususnya generasi muda untuk mengenal permainan tradisional yang mulai jarang terlihat.

"Saya sangat senang ada acara seperti ini. Selama ini kita lebih sering melihat anak-anak bermain gadget, sedangkan permainan tradisional, seperti gasing sudah mulai jarang dimainkan. Lewat kegiatan ini, saya jadi tahu kalau ternyata Gasing Kutai punya ciri khas dan nilai budaya yang harus kita jaga bersama," ujarnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top