
Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Sopan Sopian, Kamis (2/7/2026), (foto:dok.KutaiRaya)
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Beasiswa Tematik Kesehatan dalam Beasiswa Kukar Idaman Terbaik 2026 sepi peminat.
Dari total kuota sebanyak 155 penerima, jumlah pendaftar hingga penutupan pendaftaran belum mencapai 50 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar).
Pasalnya, beasiswa ini disiapkan untuk mencetak tenaga kesehatan asli daerah yang nantinya diharapkan dapat mengisi kebutuhan dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, hingga bidan di berbagai wilayah Kukar.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Kabupaten Kukar, Fathul Alimin mengatakan, rendahnya jumlah pendaftar terjadi hampir di seluruh formasi yang dibuka pada program beasiswa tematik kesehatan.
"Dari 155 kuota Beasiswa Tematik Kesehatan, sampai penutupan pendaftaran jumlah pendaftarnya masih belum mencapai 50 persen. Kalau disimulasikan, sekitar 70 orang yang mendaftar," ujarnya kepada KutaiRaya.com, Senin (29/6/2026).
Ia mencontohkan pada formasi kerja sama pendidikan di Rumah Sakit Parikesit, dari kuota yang tersedia masih jauh dari jumlah ideal sehingga belum mampu memenuhi target penerimaan.
Kondisi ini bukan disebabkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah daerah.
Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari penyuluhan di sekolah-sekolah, kecamatan hingga lingkungan masyarakat.
"Sosialisasi sebenarnya sudah kami lakukan cukup masif. Kami turun ke sekolah, kecamatan sampai ke lingkungan RT. Tetapi yang menjadi kendala adalah banyak anak-anak, terutama yang berasal dari luar Kecamatan Tenggarong, masih kurang percaya diri untuk bersaing masuk ke jurusan kesehatan," ujarnya.
Ia menilai rasa minder tersebut muncul karena mereka merasa harus bersaing dengan calon mahasiswa dari kota-kota besar yang dinilai memiliki persiapan lebih baik.
Padahal, program beasiswa tersebut membuka kesempatan untuk berbagai program studi kesehatan di perguruan tinggi terdekat, seperti Universitas Mulawarman, mulai dari dokter umum, dokter gigi, farmasi, keperawatan hingga kebidanan.
"Kami akan memperkuat sosialisasi pada tahun depan. Yang ingin kami dorong bukan hanya informasi programnya, tetapi juga membangun rasa percaya diri anak-anak SMA di Kukar agar berani bersaing masuk ke jurusan kesehatan," katanya.
Sementara itu Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Sopan Sopian, menilai persoalan utama bukan terletak pada minimnya minat masyarakat, melainkan mekanisme masuk ke fakultas kesehatan, khususnya kedokteran, yang memang memiliki tingkat persaingan sangat tinggi.
"Jadi bukan kurang peminat. Persoalannya mekanisme masuk ke jurusan kedokteran memang cukup rumit. Anak-anak Kukar harus bersaing dengan peserta dari seluruh Indonesia, sehingga tidak mudah untuk lolos," tuturnya.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu menghadirkan sistem pembinaan khusus, sebelum proses seleksi perguruan tinggi berlangsung agar calon penerima beasiswa memiliki peluang lebih besar untuk diterima.
Ia mengusulkan adanya program pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi murid berprestasi dari berbagai wilayah di Kukar, mulai dari kawasan hulu, tengah hingga pesisir.
"Nanti dilakukan penyaringan lebih dulu di tingkat daerah. Anak-anak yang memang punya prestasi dan potensi dipersiapkan secara khusus sebelum mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Jadi mereka lebih siap bersaing," katanya.
Selain itu, ia juga menegaskan proses seleksi harus berjalan objektif dan bebas dari praktik titipan agar beasiswa benar-benar diberikan kepada putra-putri daerah yang memiliki kemampuan akademik terbaik.
"Jangan sampai ada titipan. Yang harus mendapatkan kesempatan adalah anak-anak Kukar yang memang punya prestasi, kemampuan, dan layak menjadi tenaga kesehatan di masa depan," ucapnya. (*zar)