
Tangga Arung Square, Senin (15/6/2026).(Foto: Achmad Rizki/ KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Sejumlah pedagang Tangga Arung Square (TAS) mengaku sepi pengunjung atau pembeli.
Melihat kondisi ini, pedagang memilih berjualan di luar TAS untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Salah seorang pedagang TAS yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, berjualan di TAS hanya merasakan sekitar 1-2 bulan.
Namun kondisinya semakin buruk, pasca terjadinya peristiwa demo terhadap transparansi pengelola TAS.
"Kondisi TAS tak bisa diandalkan, untuk menopang kebutuhan keluarga. Terakhir berjualan April hanya mendapatkan di bawah Rp 300 ribu," katanya kepada KutaiRaya.com, Senin (11/6/2026).
Ia menegaskan kebutuhan keluarga telah pasti setiap harinya.
Tapi usaha yang dijalankan tak mampu mencukupi memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurutnya, pasar ramai dan sepinya ini tergantung dari pengelolanya atau pemerintah daerah.
Jika pemerintah daerah memiliki terobosan atau memikat daya tarik pengunjung, maka dapat mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
Hal senada juga disampaikan pedagang lainnya.
Ia menyebutkan, pemerintah daerah seharusnya mampu meramaikan pusat perbelanjaan.
Sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat.
"Saya masih mempertahankan lapak yang ada, meskipun saya berjualan di luar. Karena suatu saat jika TAS ini ramai, maka kita masih memiliki lapak di lokasi itu," tuturnya.
Menanggapi hal itu, Plt Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Sayid Fathullah menjelaskan, kondisi perekonomian di Indonesia memang tak stabil, bukan hanya di Kukar saja.
"Kita juga tengah menghadapi tantangan era digital. Untuk itu, para pedagang diminta agar segera belajar teknologi," ucap Sayid. (Ary)