• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Aliansi Balikpapan Bergerak menggelar aksi di Halaman Kantor DPRD Balikpapan, pada hari Senin (15/6/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Aliansi Balikpapan Bergerak menggelar aksi di Halaman Kantor DPRD Balikpapan, pada hari Senin (15/6/2026). Aksi tersebut menyuarakan lima tuntutan nasional dan sembilan tuntutan daerah yang dinilai berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Koordinator Lapangan Aliansi Balikpapan Bergerak, Wisnu Nugroha, mengatakan persoalan energi menjadi fokus utama karena dampaknya yang luas terhadap kehidupan masyarakat.

"Grand isu yang kami bawa adalah soal BBM. Hari ini masyarakat menghadapi kenaikan harga BBM, sementara di Balikpapan sendiri Pertalite masih sulit didapatkan," kata Wisnu.

Menurut dia, kondisi global, termasuk situasi di Selat Hormuz, turut memengaruhi harga energi. Namun demikian, pemerintah pusat diminta mengevaluasi kebijakan anggaran agar subsidi energi mendapat porsi yang lebih besar.

Aliansi meminta Presiden Prabowo Subianto meninjau kembali prioritas penggunaan APBN, khususnya terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes), dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat terhadap energi.

"Kami tidak mengatakan program itu tidak baik, tetapi hari ini energi memiliki efek domino yang besar. Ketika BBM naik, harga pangan dan biaya transportasi juga ikut naik," ujarnya.

Selain isu nasional, mahasiswa juga menyoroti kondisi distribusi Pertalite di Balikpapan. Berdasarkan hasil survei yang mereka lakukan ke sejumlah SPBU, masih ditemukan keterbatasan distribusi BBM bersubsidi, terutama bagi pengguna kendaraan roda dua.

"Kami menemukan ada SPBU yang tidak menyediakan Pertalite, bahkan ada yang lebih banyak melayani kendaraan roda empat. Sementara pengguna roda dua, termasuk ojek online, masih kesulitan mendapatkannya," kata Wisnu.

Aliansi juga meminta Pemerintah Kota Balikpapan mengevaluasi jam operasional distribusi Pertalite dan memperketat pengawasan terhadap dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Selain persoalan energi, mahasiswa turut mengangkat sejumlah isu daerah lainnya, seperti meningkatnya tindak kriminalitas, kendaraan yang parkir di bahu jalan hingga menyebabkan kemacetan, minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU), serta sejumlah persoalan pelayanan publik lainnya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi di sekitar SPBU Km 15 yang kerap mengalami kemacetan akibat kendaraan yang parkir di tepi jalan. Mahasiswa juga mendesak pemerintah mempercepat pemasangan PJU yang dinilai penting untuk meningkatkan keamanan masyarakat.

Sementara itu, Polresta Balikpapan menerjunkan sebanyak 491 personel untuk mengawal jalannya aksi. Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Jerrold H.Y. Kumontoy menegaskan bahwa kehadiran aparat kepolisian bukan semata-mata untuk melakukan pengamanan, melainkan sebagai bentuk pelayanan kepada peserta aksi.

"Pada prinsipnya tugas kami bukan hanya pengamanan, tetapi pelayanan kepada adik-adik mahasiswa agar dapat menyampaikan aspirasi dengan aman dan tertib," ujarnya.

Menurut Jerrold, jumlah personel yang disiagakan disesuaikan dengan pemberitahuan awal dari penyelenggara yang memperkirakan jumlah peserta aksi mencapai sekitar 1.000 orang.

Namun, jumlah massa yang hadir di lapangan ternyata lebih sedikit dari perkiraan, sehingga pengamanan dapat dilakukan dengan lebih maksimal.

Kapolresta berharap seluruh peserta aksi tetap mematuhi aturan dan menjaga ketertiban, agar penyampaian aspirasi tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun pengguna jalan lainnya.

Dalam pengamanan aksi tersebut, sejumlah personel Polisi Wanita (Polwan) tampak ditempatkan di garis terdepan. Jerrold menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari pendekatan humanis yang mengedepankan dialog dan komunikasi.

"Pengamanan dilakukan secara bertahap mulai dari pre-emptive, preventif, hingga represif. Pada tahap awal kami mengutamakan dialog, salah satunya dengan menempatkan Polwan di barisan depan," katanya.

Menurutnya, kehadiran Polwan diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman dan kondusif mengingat peserta aksi juga terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi.

"Mereka sengaja kami tempatkan di depan untuk memastikan komunikasi berjalan baik dan seluruh kegiatan berlangsung aman serta nyaman bagi semua pihak," ujarnya. (Las)



Pasang Iklan
Top