• Minggu, 14 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Suasana di Kopi Tana, Tenggarong.(Foto: Andri Wahyudi/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Di tengah menjamurnya kedai kopi dengan konsep modern dan estetik, Toko Kopi Tana hadir di Tenggarong dengan pendekatan berbeda.

Kedai kopi yang berdiri sejak Desember 2025 ini mengusung konsep sederhana dan membumi, dengan tujuan menjadi tempat menikmati kopi sehari-hari tanpa harus memikirkan penampilan atau gaya hidup tertentu.

Pemilik Toko Kopi Tana, Azan, mengemukakan, lokasi usaha yang saat ini ditempati awalnya hanya bersifat sementara.

Namun, seiring meningkatnya jumlah pelanggan dan perkembangan usaha yang positif, ia memutuskan untuk tetap beroperasi di lokasi tersebut sambil menunda rencana pindah ke tempat yang lebih permanen.

"Awalnya memang sementara, tapi ternyata makin ke sini makin jalan. Jadi untuk sekarang kami maksimalkan dulu yang ada di sini," ujarnya, Jumat (12/6/2026).

Azan mengaku sebenarnya telah menyiapkan rencana pembangunan kedai baru di kawasan Jalan Aji Masnandai, dekat rumah sakit baru.

Namun, realisasi pemindahan masih menunggu perkembangan usaha dan kesiapan finansial.

Mengusung konsep "homie", Toko Kopi Tana dirancang sebagai tempat yang nyaman dan sederhana bagi siapa saja yang ingin menikmati secangkir kopi.

"Saya pengennya tempat ini menjadi tempat orang memenuhi kebutuhan kafein hariannya. Jadi tidak perlu mikirin outfit, tidak perlu dandan atau tampil khusus untuk datang ke sini," katanya.

Sehingga Toko Kopi Tana tidak membatasi segmen pengunjung tertentu, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja hingga masyarakat umum, diharapkan dapat menikmati suasana yang ditawarkan.

Untuk menu minuman, Es Kopi Susu Singgah menjadi produk andalan, sekaligus menu terlaris.

Sedangkan untuk pecinta kopi hitam, Americano Series, seperti Peach Americano dan Siberi Americano juga cukup diminati pelanggan.

Azan menjelaskan, beberapa menu kopi di kedainya menggunakan biji kopi specialty grade yang didatangkan dari Jawa.

"Untuk menu specialty yang paling banyak dicari itu Americano. Kami menggunakan beans specialty yang kualitasnya memang lebih baik," tuturnya.

Nama "Tana" sendiri dipilih bukan tanpa alasan.

Azan mengaku terinspirasi dari kata "tanaq" yang disebut sebagai salah satu istilah dalam bahasa Dayak yang berarti tanah.

Menurutnya, nama ini mencerminkan konsep kedai yang membumi dan dekat dengan masyarakat.

"Saya ingin tempat ini sederhana, membumi, dan bisa diterima semua kalangan. Itu yang ingin saya bangun lewat nama Tana," ujarnya.

Tak hanya minuman, Toko Kopi Tana juga menawarkan berbagai menu makanan ringan yang menjadi favorit pelanggan, di antaranya lempeng pisang yang menjadi menu terlaris, kemudian lumpia siram dan martabak maryam kari.

"Lempeng pisang paling banyak dicari pelanggan sampai sekarang," katanya.

Saat ini Toko Kopi Tana beroperasi mulai pukul 16.00 hingga 22.30 WiTA.

Namun ke depan, Azan berharap dapat memperluas jam operasional hingga pagi dan siang hari.

Perjalanan bisnis yang dijalani Azan tidak selalu mulus.

Ia menuturkan tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah masalah logistik dan ketersediaan bahan baku.

Biji kopi yang digunakan sebagian besar berasal dari Malang, Jawa Timur, sehingga sangat bergantung pada kelancaran distribusi.

Selain itu, pasokan susu juga kerap mengalami keterbatasan karena prioritas distribusi biasanya diberikan kepada jaringan kedai kopi besar.

"Kalau bahan baku, terutama beans dan susu, itu yang paling menantang. Kadang pasokan terbatas karena distributor lebih mengutamakan pelanggan besar," ucapnya.

Menariknya, Azan tidak memiliki latar belakang pendidikan maupun pekerjaan di bidang kopi.

Lulusan Hubungan Internasional tersebut mengaku belajar secara otodidak saat menetap di Malang selama 14 tahun.

Di kota itu, ia mulai mengenal budaya kopi yang berkembang pesat hingga akhirnya mendalami dunia perkopian sebagai home barista.

Sebelum mendirikan Toko Kopi Tana, Azan juga sempat mencoba berbagai usaha lain, mulai dari kafe hingga kuliner.

Namun sebagian besar usahanya tidak bertahan lama.

Keputusan kembali ke Tenggarong akhirnya menjadi titik balik yang membawanya mendirikan Toko Kopi Tana.

"Awalnya ini hanya untuk menunggu tempat baru jadi. Tapi ternyata respons masyarakat sangat baik. Banyak yang datang lagi setelah kunjungan pertama. Dari situ saya merasa konsep yang kami tawarkan ternyata diterima," tuturnya.

Saat ini, rata-rata pengunjung Toko Kopi Tana mencapai sekitar 100 orang per hari.

Angka ini menjadi bukti bahwa konsep sederhana dan membumi yang diusung mampu menarik minat masyarakat, khususnya anak muda di Tenggarong yang mencari tempat nyaman untuk menikmati kopi tanpa sekat dan tanpa tuntutan gaya hidup tertentu. (Dri)



Pasang Iklan
Top