• Selasa, 02 Juni 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Komandan Komando Resor Militer (Korem) 091/Aji Surya Natakesuma (ASN), Brigadir Jenderal TNI Anggara Sitompul Saat Mengisi Materi di Acara Seminar GAMKI Kukar, Pendopo Odah Etam Tenggarong, Sabtu (30/5/2026).(Foto: Andri Wahyudi/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Komandan Komando Resor Militer (Korem) 091/Aji Surya Natakesuma (ASN), Brigadir Jenderal TNI Anggara Sitompul, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak konflik geopolitik global yang saat ini terus berkembang dan berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi serta ketahanan nasional Indonesia.

Hal ini disampaikan Anggara saat mengisi materi di acara Seminar GAMKI Kukar, Pendopo Odah Etam Tenggarong, Sabtu (30/5/2026).

Anggara menilai dunia sedang menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian akibat persaingan kekuatan besar, perebutan sumber daya energi, hingga konflik berkepanjangan di sejumlah kawasan.

Menurutnya, berbagai konflik yang terjadi di dunia menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi, energi, teknologi, dan ideologi menjadi faktor penting yang diperebutkan oleh banyak negara.

“Kalau kita lihat kondisi global saat ini, sistem internasional sangat rentan terhadap konflik yang berkepanjangan. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang berkonflik, tetapi juga negara-negara lain, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Anggara mencontohkan ketegangan yang terjadi di Timur Tengah hingga konflik di berbagai kawasan lain yang berdampak terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Gangguan pada jalur distribusi energi dan perdagangan internasional dapat memicu kenaikan harga bahan bakar serta kebutuhan pokok di berbagai negara.

Ia menilai di balik banyak konflik yang terjadi, terdapat persaingan kepentingan terkait penguasaan energi dan pengaruh geopolitik.

“Pada akhirnya, banyak konflik berakar pada perebutan kepentingan strategis, termasuk energi. Ketika jalur distribusi terganggu, efeknya langsung terasa terhadap perekonomian dunia,” katanya.

Selain perang konvensional, Anggara juga menyoroti munculnya bentuk-bentuk perang modern yang memanfaatkan teknologi informasi, media sosial, dan tekanan ekonomi untuk memengaruhi suatu negara.

Menurutnya, ancaman ini harus dipahami masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat memecah persatuan bangsa.

Ia juga menyinggung pentingnya memperkuat kemandirian nasional sebagaimana menjadi salah satu fokus pembangunan pemerintah saat ini.

Kemandirian di sektor pangan, energi, dan industri dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh tekanan global.

“Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar. Karena itu, kita harus mampu mengelolanya sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar. Kemandirian menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan dunia,” tuturnya.

Anggara menambahkan, penguatan hilirisasi industri dan pemanfaatan sumber daya dalam negeri harus terus didorong agar Indonesia memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari kekayaan alam yang dimiliki.

Ia berharap seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, mampu memahami tantangan global yang sedang berlangsung dan ikut berkontribusi menjaga ketahanan nasional.

“Persaingan dunia akan semakin ketat. Karena itu, bangsa Indonesia harus tetap solid, adaptif, dan memiliki semangat kemandirian agar mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” ucapnya. (Dri)



Pasang Iklan
Top