
Potret terik matahari siang hari di area Pasar Pagi Kota Samarinda. Senin (20/07/2026).(Foto:Abi/KutaiRaya.com)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com): Tren penurunan curah hujan di Kalimantan Timur mulai menjadi perhatian berbagai pihak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah provinsi ini akan mengalami hujan dengan intensitas rendah dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan hasil analisis BMKG menunjukkan curah hujan selama periode 11–20 Juli 2026 diperkirakan hanya berada pada kisaran 0–50 milimeter di sebagian besar wilayah Kalimantan Timur. Bahkan, di kawasan selatan provinsi ini, akumulasi hujan diprediksi kurang dari 20 milimeter.
Menurut Riza, meski peluang hujan masih tergolong tinggi, volume air yang turun diperkirakan tidak signifikan sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan air secara optimal maupun mengurangi potensi kekeringan.
"Analisis kami menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Timur akan mengalami curah hujan kategori rendah. Karena itu masyarakat perlu terus memantau informasi cuaca yang kami sampaikan secara berkala," ujar Riza, Senin (20/7/2026).
Ia menambahkan, data BMKG juga mencatat sejumlah daerah telah memasuki fase hari tanpa hujan (HTH), mulai kategori sangat pendek hingga menengah. Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, menjadi wilayah dengan durasi HTH terpanjang, yakni mencapai 16 hari berturut-turut.
"Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan maupun sampah di ruang terbuka selama periode cuaca kering," tambahnya.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Samarinda melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan sebagai langkah pencegahan. Selain melakukan pemetaan kawasan yang rawan terbakar, BPBD juga memperkuat koordinasi dengan instansi terkait untuk mempercepat penanganan apabila ditemukan titik api.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan upaya pencegahan menjadi fokus utama pemerintah dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi.
"Kami telah menyiapkan personel, peralatan, dan pola koordinasi dengan seluruh pihak terkait. Harapan kami tentu tidak ada kejadian kebakaran yang meluas karena masyarakat ikut berperan menjaga lingkungannya," kata Suwarso.
Ia menegaskan, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya karhutla. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap atau titik api agar petugas dapat melakukan penanganan lebih cepat.
"Jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Jika melihat indikasi kebakaran, segera laporkan kepada petugas agar dapat segera ditindaklanjuti. Pencegahan akan jauh lebih efektif daripada penanggulangan," pungkasnya. (*Abi)