• Minggu, 31 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Gerakan Pilah Limbah Popok yang diberikan kepada kader posyandu Graha Indah, pada hari Sabtu (30/5/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Di tengah meningkatnya volume sampah rumah tangga yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara, melahirkan terobosan baru melalui Gerakan Pilah Limbah Popok (GPLP).

Program yang menggandeng tim Reenetix Indonesia ini mengajak masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga, untuk memilah limbah popok bayi sejak dari sumbernya agar dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Gerakan tersebut diawali dengan edukasi kepada kader posyandu yang digelar Sabtu (30/5/2026). Sebanyak 10 posyandu di Graha Indah dilibatkan dalam program ini dengan mengirimkan kader-kader terbaik mereka sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Lurah Graha Indah, Muhammad Arif Rahman, mengatakan program tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Balikpapan dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.

“Balikpapan saat ini terus berupaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memilah limbah popok bayi agar dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bernilai. Ketika gagasan ini disampaikan kepada kami, tentu kami menyambut positif karena berkaitan langsung dengan pengelolaan limbah,” ujarnya.

Menurut Arif, selama ini limbah popok menjadi salah satu jenis sampah rumah tangga yang jarang tersentuh program daur ulang. Akibatnya, hampir seluruh limbah popok berakhir di TPA dan menambah beban pengelolaan sampah kota.

Melalui GPLP, masyarakat diajak melihat limbah bukan lagi sebagai barang buangan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

“Yang sebelumnya tidak bernilai bisa diolah menjadi bernilai. Tentunya hal ini juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” katanya.

Program GPLP merupakan pengembangan dari inovasi pengelolaan limbah popok yang digagas Rohman, Juara Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kecamatan Balikpapan Utara. Ia menjelaskan bahwa edukasi sengaja difokuskan kepada para ibu karena merekalah pihak yang paling dekat dengan sumber limbah popok.

“Kami menggaungkan gerakan pilah limbah popok dari sumbernya. Selama ini banyak ibu rumah tangga yang belum mengetahui cara memilah limbah popok sehingga seluruhnya langsung bermuara ke TPA,” jelas Rohman.

Ia menambahkan, limbah popok selama ini juga belum menjadi perhatian utama dalam sistem pengelolaan sampah. Bahkan sebagian besar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) maupun bank sampah belum memiliki mekanisme khusus untuk mengolah limbah jenis tersebut.

“Ini salah satu limbah yang sangat mendesak untuk ditangani karena volumenya besar dan belum banyak diolah,” katanya.

Graha Indah dipilih sebagai proyek percontohan pertama. Ke depan, program ini ditargetkan dapat diterapkan di seluruh kelurahan dan kecamatan di Kota Balikpapan.

Menariknya, gerakan perdana tersebut langsung menghasilkan sekitar seribu lembar popok bekas yang terkumpul dalam satu hari. Limbah tersebut nantinya akan diproses menjadi sekitar satu ton pupuk padat yang akan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program ketahanan pangan.

Pupuk hasil pengolahan limbah popok akan dihibahkan ke sejumlah lokasi, di antaranya Pesantren Al Banjari Kilometer 20 untuk mendukung kemandirian pertanian, kawasan budidaya bawang tiwai di Graha Indah, taman-taman di lingkungan Masjid Islamic Center, hingga Kampung Program Iklim (Proklim) di Muara Rapak.

Menurut Rohman, nilai ekonomi dari limbah popok juga cukup menjanjikan. Salah satu komponen utama yang dihasilkan adalah hidrogel, yakni material penyerap cairan yang terdapat pada popok.

“Hidrogel yang telah melalui proses fermentasi memiliki nilai ekonomi sekitar Rp10 ribu per kilogram dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Ini menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata bisa menjadi sumber ekonomi baru,” ujarnya.

Dalam proses pengolahan, limbah popok dipisahkan menjadi tiga komponen utama, yakni plastik, serat (fiber), dan hidrogel. Masing-masing komponen kemudian dimanfaatkan menjadi produk berbeda.

Bagian plastik diolah menjadi bahan bakar padat dan bahan bakar cair, serat dimanfaatkan sebagai perekat untuk produk GRC (Glassfiber Reinforced Cement), sedangkan hidrogel digunakan sebagai bahan baku pupuk.

“Tidak ada bagian yang terbuang. Semua komponen memiliki manfaat dan nilai ekonomi. Ke depan tidak menutup kemungkinan akan lahir produk-produk turunan lain seperti briket maupun bahan bakar alternatif,” jelasnya.

Melalui Gerakan Pilah Limbah Popok, Kelurahan Graha Indah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah semakin meningkat.

Lebih dari sekadar mengurangi beban TPA, program ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi berbasis masyarakat mampu mengubah limbah menjadi sumber daya yang mendukung lingkungan, ketahanan pangan, dan ekonomi sirkular di Kota Balikpapan. (Las)



Pasang Iklan
Top