• Sabtu, 23 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pempek Pinkyta.(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)


BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Di tengah hantaman pandemi Covid-19 pada 2020, saat banyak pelaku usaha gulung tikar, Adelia Rohani justru memulai usaha rumahan yang kini berkembang pesat melalui pemanfaatan teknologi digital.

Dari rumah sederhana di Jalan Padat Karya Kilometer 7 RT 51 Nomor 96, Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara, usaha kuliner bernama Pempek Pinkyta lahir dan perlahan dikenal masyarakat luas tanpa memiliki toko fisik maupun papan reklame.

“Berdiri usaha sejak tahun 2020. Ini memang produk hasil pandemi Covid-19. Sebelumnya saya usaha kerupuk cumi-cumi, tetapi saat Covid banyak toko oleh-oleh tutup. Jadi saya coba cari usaha rumahan, muncullah pempek ini,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Awalnya, usaha tersebut hanya dijalankan secara sederhana bersama sang suami. Produk dipasarkan melalui unggahan di WhatsApp dan Facebook. Tak disangka, respons konsumen datang begitu cepat hingga akhirnya usaha itu terus dikembangkan.

“Awalnya cuma posting biasa di WA, ternyata responsnya cepat. Lalu coba di Facebook dan makin cepat juga. Akhirnya ditekunin sampai berjalan seperti sekarang,” katanya.

Adelia mengaku perkembangan usahanya tidak lepas dari pemanfaatan digitalisasi. Platform seperti Instagram, TikTok, GoFood, hingga GrabFood menjadi sarana utama menjangkau pelanggan.

Melalui strategi pemasaran digital, Pempek Pinkyta kini mampu memproduksi 20 hingga 40 kilogram pempek setiap dua hari. Bahkan saat Ramadan, penjualan melonjak drastis hingga mencapai lima ton dalam satu bulan.

“Di momen tertentu penjualan bisa lebih dari 20–40 kilogram. Ramadan kemarin sampai lima ton sebulan,” ungkapnya.

Beragam jenis pempek dijual dengan harga terjangkau, mulai dari pempek adaan Rp70 ribu per kilogram, lenjer Rp75 ribu, hingga kapal selam Rp80 ribu per kilogram.

Tak hanya pemasaran, transaksi pembayaran pun kini didominasi sistem digital melalui QRIS.
“Sekitar 90 persen pembayaran dilakukan secara digital. Rata-rata sehari ada delapan transaksi digital yang masuk dengan nominal berbeda,” jelasnya.

Menurut Adelia, digitalisasi menjadi faktor utama yang membuat usaha rumahan miliknya mampu berkembang tanpa harus membuka toko fisik.

“Kalau tidak digital, orang tahu dari mana? Saya jualan dari rumah, tidak pasang spanduk. Penjualan sampai lima ton itu karena digitalisasi,” katanya.

Pemanfaatan teknologi digital juga memberi fleksibilitas dalam menjalankan usaha. Tanpa harus menjaga toko, ia tetap dapat menerima pesanan dari rumah. “Keuntungannya banyak sekali. Kita bisa jualan dari rumah bahkan sambil istirahat,” ujarnya.

Kini pemasaran produk Pempek Pinkyta telah menjangkau hingga Samarinda. Meski memiliki impian memperluas pasar ke Pulau Jawa, Adelia masih mempertimbangkan tantangan menjaga kualitas produk selama pengiriman.“Kalau ke Jawa pengiriman bisa dua hari. Saya khawatir kualitas produknya menurun,” katanya.

Meski begitu, ia mulai menyiapkan inovasi produk baru seperti otak-otak dan aneka makanan frozen food lainnya.

Dari usaha rumahan tersebut, Adelia mengaku kini mampu meraih omzet rata-rata sekitar Rp20 juta per bulan. Angka itu bahkan bisa meningkat pada momen tertentu seperti Lebaran dan Natal. “Alhamdulillah hasil usaha ini bahkan bisa membuat saya berangkat umrah,” ungkapnya.

Perjalanan usaha Pempek Pinkyta semakin berkembang setelah menjadi binaan Bank Indonesia sejak 2022.

Adelia mendapatkan berbagai pelatihan mulai dari manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pengemasan produk yang memperkuat daya saing bisnisnya.

“Awalnya saya menang lomba lalu diajak bergabung menjadi binaan Bank Indonesia. Ini kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas usaha secara gratis,” ujarnya.

Menariknya, hingga kini usaha Pempek Pinkyta masih dijalankan hanya oleh Adelia bersama suaminya tanpa karyawan tetap. Mereka baru melibatkan warga sekitar ketika menerima pesanan dalam jumlah besar.

“Kalau pesanan besar baru minta bantuan tetangga untuk mengemas. Hitung-hitung membantu perekonomian mereka juga,” katanya.

Ia berharap kisah usahanya dapat menjadi motivasi bagi pelaku UMKM lain untuk berani memulai usaha dan memanfaatkan digitalisasi.

“Modal awalnya kecil, hanya pakai alat masak yang ada di rumah. Uangnya diputar terus sampai akhirnya bisa punya mesin giling sendiri,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Adelia berharap pemerintah terus memberikan dukungan kepada pelaku UMKM, terutama bantuan peralatan penunjang usaha.

“Saya pernah dibantu freezer dari Dinas Perikanan dan itu sangat membantu. Mudah-mudahan bantuan seperti itu bisa terus ada untuk UMKM,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan pihaknya terus mendorong UMKM naik kelas melalui digitalisasi, termasuk pemanfaatan sistem pembayaran digital.

Menurutnya, sistem pembayaran digital membuat transaksi menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal hanya melalui telepon genggam. (Las)



Pasang Iklan
Top