• Sabtu, 23 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kegiatan dari Sanggar Tari Ketikai, Rabu (20/5/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Di tengah kondisi efisiensi anggaran yang saat ini dirasakan berbagai bidang, termasuk komunitas seni di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Meski begitu semangat untuk melestarikan budaya di Kukar tetap menyala.

Salah satunya ditunjukkan oleh Sanggar Tari Ketikai yang berada di Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong. Meski dengan keterbatasan dukungan dana, sanggar tersebut tetap rutin menggelar latihan dan aktif membina anak-anak di bidang seni tari dan budaya, walaupun pihaknya kini sudah mengantongi Nomor Induk Kesenian.

Ketua Sanggar Tari Ketikai, Yuliana Wulandari mengatakan, kondisi efisiensi anggaran tidak menjadi alasan bagi komunitas seni untuk berhenti berkegiatan, semangat berkarya dan melestarikan budaya harus terus dijaga, terutama untuk anak-anak yang ingin belajar seni.

"Di tengah kondisi anggaran yang sekarang cukup terbatas, kami dari komunitas seni, baik sanggar tari maupun yayasan lainnya, tetap menunjukkan semangat dan konsisten untuk terus latihan dan berkarya," ujarnya pada KutaiRaya.com, Rabu (20/5/2026).

Ia menegaskan, Sanggar Tari Ketikai tidak pernah berpikir untuk menghentikan kegiatan latihan meskipun belum mendapatkan dukungan anggaran secara maksimal.

Hingga saat ini, kegiatan sanggar masih berjalan dengan dukungan dana pribadi serta bantuan dari orang tua peserta didik.

"Untuk saat ini kami masih menggunakan dana pribadi dan dukungan dari orang tua anak didik. Karena bagi kami ini bukan sekadar mengejar sesuatu, tapi sebagai pelajaran dan edukasi kepada anak-anak tentang budaya dan kesenian tari," jelasnya.

Menurutnya, keberadaan sanggar ini bukan hanya menjadi tempat belajar menari, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan pengenalan budaya lokal kepada generasi muda. Karena itu, ia berharap komunitas seni tetap mendapat perhatian dan apresiasi, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

"Kalau ada bantuan dari pemerintah tentu kami sangat bersyukur, karena itu bisa menjadi tambahan semangat bagi anak-anak yang ikut berkesenian," katanya.

Di tengah keterbatasan, semangat para peserta didik justru disebut semakin tinggi. Anak-anak tetap antusias mengikuti latihan yang dikemas dengan metode pembelajaran menarik agar tidak membosankan.

Ia menuturkan, dalam setiap pertemuan, anak-anak tidak hanya belajar gerakan tari, tetapi juga mendapatkan berbagai kegiatan pendukung seperti olah tubuh, latihan di alam terbuka, hingga kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Tenggarong.

"Kami tidak hanya memperkenalkan tarian saja, tapi juga mengenalkan budaya dan sejarah daerah. Kadang latihan dilakukan di luar, seperti ke sawah, museum, atau tempat bersejarah lainnya supaya anak-anak lebih mengenal budaya Kukar," ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo mengatakan, dampak efisiensi anggaran memang dirasakan oleh berbagai komunitas seni, tidak hanya di Kukar tetapi juga di daerah lain. Meski begitu pihaknya tetap berupaya agar komunitas seni dapat terus berkembang dan berkarya.

"Di tengah keterbatasan ini tentu komunitas tak perlu patah semangat, memang dampaknya tidak hanya dirasakan di Kukar, tetapi juga di berbagai daerah. Namun kami terus berupaya agar komunitas-komunitas seni bisa terus berkembang," pungkasnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top