• Jum'at, 22 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri. Kamis, (21/5/2026).(Foto: Abi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bersama jajaran terkait melakukan pemantauan harga bahan pokok, distribusi LPG, hingga kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Kamis, (21/5/2026). Hasil pemantauan menunjukkan stok kebutuhan masyarakat masih aman meski terjadi kenaikan harga di sejumlah komoditas.

Pemkot Samarinda melakukan Pemantauan kesiapan hewan kurban jelang momentum Idul adha yang sering memicu peningkatan permintaan bahan pokok, hingga hewan kurban yang berpotensi memengaruhi harga dan distribusi di pasaran. Selain itu, pemerintah juga berupaya mengantisipasi risiko penyebaran penyakit hewan menular, sekaligus menjaga stabilitas pasokan di tengah menurunnya daya beli masyarakat, dalam beberapa waktu terakhir.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri mengatakan, pemantauan dilakukan mulai dari rumah potong hewan (RPH), hingga pasar tradisional.

“Pertama kita mengantisipasi bahan pokok untuk menghadapi Lebaran Iduladha. Dari tadi kita melihat beberapa titik mulai dari RPH sampai pasar, dan alhamdulillah kalau bahan-bahan pokok memang ada kenaikan, tapi tidak terlalu signifikan, masih di ambang batas normal,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Meski demikian, Saefuddin mengungkapkan, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir.

“Ada beberapa hal yang disampaikan pedagang, sekarang konsumsi pembeli itu menurun. Mungkin karena kondisi keuangan atau apa, pembeli dalam minggu-minggu ini menurun. Tapi masih di ambang batas aman,” katanya.

Selain itu, Saefuddin juga meninjau bangunan pasar yang sebelumnya sempat terbakar dan kini telah diperbaiki.

“Alhamdulillah lantainya sudah bagus, atapnya sudah bagus. Pedagang memang bertahap mengisi petak-petak yang tersedia,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kota Samarinda, Maskuri, memastikan kondisi hewan kurban di Samarinda dalam keadaan sehat dan aman dari penyakit menular.

“Belum ada indikasi penyakit yang muncul. Jadi masih aman untuk sapi-sapi yang ada,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar sapi kurban yang masuk ke Samarinda berasal dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.

“Kalau sapi Bali rata-rata dari Sulawesi dan Kupang. Kupang itu green zone atau zona hijau Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dari sana juga sudah dilakukan pemeriksaan dan ada sertifikat kesehatan hewan, sebelum dikirim ke Kaltim,” jelasnya.

Meski berasal dari zona hijau, vaksinasi PMK tetap dilakukan ulang di Samarinda sebagai langkah pencegahan.

“Kalau zona hijau vaksinnya dilakukan di Samarinda. Jadi begitu sapi masuk, kita istirahatkan lalu besok paginya dilakukan vaksin PMK,” katanya.

DKPP Samarinda juga membentuk tim pemeriksaan kesehatan hewan, dan pengawasan daging kurban yang turun langsung ke lapangan, baik ke lapak penjualan maupun peternakan warga.

“Penjualan sapi di Samarinda harus dilengkapi dokumen SKKH atau surat keterangan kesehatan hewan. Konsumen sebelum transaksi sebenarnya harus menanyakan dulu dokumen itu,” ujar Maskuri.

Ia menambahkan, tren permintaan hewan kurban di Samarinda masih cukup tinggi. Hingga pertengahan Mei, tercatat sekitar 15.400 ekor hewan kurban masuk ke wilayah Samarinda, meski tidak seluruhnya untuk kebutuhan kota tersebut, karena Samarinda juga menjadi pusat distribusi bagi daerah sekitar seperti Tenggarong dan Bontang.

“Tahun terakhir memang ada penurunan untuk sapi dibanding 2024 dan 2025. Tapi sekarang mulai ada pergeseran, domba mulai naik peminatnya selain kambing karena harga lebih murah,” pungkasnya. (*Abi)



Pasang Iklan
Top