• Jum'at, 22 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Pengunjung saat berdiskusi di ajang Riam Screening, Rabu (20/5/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Kegiatan pemutaran film lokal bertajuk Riam Screening menjadi ruang diskusi sekaligus ajang apresiasi bagi anak muda terhadap karya film dan budaya lokal Kalimantan Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Museum Mulawarman Tenggarong, Rabu (20/5/2026) malam.

Acara ini menghadirkan berbagai film karya mahasiswa muda Kalimantan yang mengangkat cerita budaya dan kehidupan masyarakat pedalaman.

Melalui suasana santai di ruang terbuka, para penonton tidak hanya menikmati film, tetapi juga berdiskusi mengenai pesan budaya yang disampaikan dalam setiap karya.

Koordinator Lapangan Riam Screening, Awal Ramadhan mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari festival film yang bertujuan memperkenalkan film-film lokal kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.

"Nama kegiatan ini adalah Riam Screening, sebuah acara pemutaran film-film lokal Kalimantan yang membahas budaya-budaya di pedalaman Kalimantan Timur, "ujarnya pada KutaiRaya.com, Rabu (20/5/2026).

Pada penyelenggaraan kali ini, terdapat tiga film yang ditayangkan, yang bertajuk Rondong, Apolagan dan Ruang Sesak. Ketiga film tersebut merupakan karya mahasiswa ISBI Kalimantan Timur angkatan 2024.

Ia menjelaskan, sebenarnya terdapat lebih dari 10 film yang masuk dalam daftar calon penayangan. Namun panitia akhirnya memilih tiga film tersebut karena dinilai paling sesuai dengan tema kegiatan tahun ini, Cerita Dalam Arus.

"Tema ini menggambarkan cerita lokal yang mengikuti aliran sungai dari hulu ke hilir. Tiga film ini paling mendekati dengan tema yang kami angkat," jelasnya.

Riam Screening juga menjadi upaya agar masyarakat umum lebih mudah mengakses dan menikmati film lokal. Selama ini, film-film daerah lebih sering diputar dalam lingkup festival tertentu sehingga belum banyak dikenal publik luas.

"Kami menghadirkan screening ini supaya masyarakat umum bisa menonton film lokal. Biasanya film-film seperti ini hanya berputar di festival," katanya.

Ia menambahkan, nilai budaya menjadi hal yang selalu ditanamkan kepada mahasiswa ISBI Kalimantan Timur. Sebagai Institut Seni Budaya Indonesia yang berada di Kalimantan Timur, ISBI ingin menjadikan budaya lokal sebagai dasar untuk berkarya dan memperkenalkan identitas daerah ke luar Kalimantan.

"Budaya menjadi titik awal kami untuk bergerak keluar Kalimantan dan menyebarkan karya-karya lokal yang mengandung kebudayaan Kalimantan," ucapnya.

Melalui kegiatan ini, ia berharap, anak muda di Tenggarong maupun Kalimantan Timur semakin aktif mengadakan kegiatan kebudayaan dan ikut melestarikan budaya daerah sendiri.

"Kami berharap anak muda sering mengadakan festival kebudayaan yang membahas budaya kita sendiri. Kalau bukan kita yang melestarikan budaya Kalimantan, siapa lagi? Karena budaya luar sudah mulai banyak masuk ke Kalimantan," harapnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung, Rendi Maulana, mengapresiasi karya-karya anak muda yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, film-film yang diputar memiliki nilai budaya dan pesan kehidupan yang dekat dengan masyarakat Kalimantan.

"Melalui film-film ini kita bisa melihat nilai-nilai budaya yang ada di Kalimantan. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan dan melibatkan lebih banyak anak muda, khususnya di Kukar," pungkasnya. (*Zar)



Pasang Iklan
Top