
Stadion Aji Imbut Mini Soccer Tenggarong Seberang (Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Upaya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor olahraga menghadapi tantangan baru.
Di tengah kebijakan efisiensi, sejumlah venue di Kompleks Olahraga Aji Imbut mengalami fluktuasi penyewaan, terutama mini soccer yang mengalami penurunan cukup tajam.
Kepala UPTD Pengelolaan Komplek Olahraga Dispora Kukar, Fahrul Razi mengatakan, saat ini fasilitas yang menjadi sumber utama PAD masih terbatas pada beberapa venue, yakni mini soccer, futsal, aula, dan asrama atlet.
"Untuk sementara yang menghasilkan PAD di Aji Imbut itu mini soccer, futsal, aula, dan asrama atlet. Beberapa fasilitas lain masih lebih difokuskan untuk pembinaan," kata Fahrul, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, lapangan tenis misalnya, hingga kini belum diberlakukan tarif sewa karena masih dalam tahap perhitungan nilai retribusi.
Sedangkan venue lain, seperti lapangan sepak bola utama, bulu tangkis, dan sejumlah sarana olahraga tetap dimanfaatkan masyarakat maupun atlet binaan.
Pada 2026, target PAD dari pengelolaan fasilitas olahraga Dispora Kukar dipatok sebesar Rp 100 juta.
Meskipun angka tersebut dinilai realistis, evaluasi tetap dilakukan untuk melihat peluang kenaikan target di tahun mendatang.
"Masih Rp 100 juta untuk tahun ini, karena kami juga melihat kondisi pemasukan yang ada. Nanti akan dihitung lagi untuk potensi peningkatan," katanya.
Penurunan paling terasa terjadi pada mini soccer.
Fahrul menuturkan pemasukan dari venue tersebut turun hingga sekitar 50 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi ini diperkirakan karena dipengaruhi penyesuaian belanja masyarakat di tengah efisiensi.
"Mini soccer memang yang paling terasa penurunannya. Kalau sebelumnya bisa tinggi, sekarang turun cukup signifikan," ucapnya.
Sebaliknya, futsal dan bulu tangkis justru menunjukkan tren positif.
Tarif yang lebih terjangkau dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya minat masyarakat, terutama untuk penggunaan per jam.
"Bulu tangkis dan futsal ada peningkatan. Bahkan bulu tangkis sekarang lebih ramai karena masyarakat banyak memanfaatkan sistem sewa per jam," ujar Fahrul.
Ia menambahkan, keterbatasan aturan tarif menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola venue pemerintah.
Berbeda dengan swasta yang bisa lebih fleksibel menyesuaikan harga pasar, Dispora hanya dapat mengandalkan promosi layanan dan peningkatan kualitas fasilitas.
"Kami tidak bisa menurunkan harga sesuka hati karena semua sudah ada aturannya. Jadi yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kenyamanan dan pelayanan," tuturnya.
Untuk menjaga kualitas fasilitas, pemeliharaan rutin terus dilakukan, terutama pada lapangan yang intensitas pemakaiannya tinggi.
Namun, beberapa perbaikan besar masih menunggu penyesuaian anggaran.
Fahrul berharap peningkatan sarana dan pelayanan dapat menjadi strategi utama untuk menarik lebih banyak penyewa, sekaligus menjaga keberlangsungan PAD dari sektor olahraga di Kukar. (dri)