• Minggu, 31 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Banner Kegiatan Tausiyah Ustadz Hanan Attaki (istimewa)


TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Antusiasme warga Kutai Kartanegara (Kukar) benar-benar tak terbendung.

Informasi tentang tausiyah bertajuk “Perempuan Tangguh, Beriman & Berdaya” bersama Ustadz Hanan Attaki menyebar cepat melalui grup WhatsApp hingga media sosial.

Dalam waktu singkat, respons masyarakat langsung membludak.

Tiket habis, undangan tersebar hingga ke pelosok kecamatan, dan kolom komentar di poster digital dipenuhi tanda hadir dari para ibu hingga remaja putri yang tak ingin melewatkan momen langka tersebut.

Acara yang digelar pada 26 April 2026 di Gedung Putri Karang Melenu (PKM), Tenggarong Seberang, mulai pukul 19.30 hingga 22.45 WITA, menjadi salah satu agenda keagamaan paling bergengsi tahun ini.

Di balik suksesnya acara ini, ada peran besar Bunda Fatlon Nisa, anggota DPRD Kukar dari Fraksi PDI Perjuangan, yang menjadi motor penggerak terselenggaranya kegiatan inspiratif ini.

Bagi Bunda Fatlon Nisa, kehadiran Ustaz Hanan Attaki bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bentuk nyata kepedulian terhadap perempuan di daerahnya.

Ia ingin menghadirkan ruang yang bisa menguatkan iman, sekaligus memberi semangat bagi perempuan agar lebih berdaya dalam kehidupan sehari-hari.

Acara ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten dan DPRD Kukar, sehingga menjadikannya semakin istimewa dan memiliki dampak luas bagi masyarakat.


Lautan Perempuan Padati Gedung PKM, Antusiasme tak Terbendung

Sejak sebelum pukul 19.00 WITA, suasana di sekitar lokasi sudah ramai.

Pelataran Gedung Putri Karang Melenu (PKM) dipenuhi kendaraan, antrean panjang terlihat di berbagai titik, dan pedagang kaki lima mulai bermunculan, menambah semarak suasana malam di Tenggarong.

Saat pintu gedung dibuka, pemandangan di dalam benar-benar luar biasa.

Ruangan acara hampir seluruhnya terisi.
Yang paling mencuri perhatian adalah dominasi peserta perempuan, yang mencapai sekitar 99 persen dari total hadirin.

Mulai dari emak-emak yang datang berombongan, ibu muda yang menggandeng anak remajanya, hingga para santriwati dan mahasiswi.

Semua hadir dengan semangat yang sama, yakni ingin mendapatkan ilmu dan ketenangan hati.

Busana gamis berwarna-warni, hijab dengan berbagai gaya, serta ekspresi penuh harap, menciptakan suasana hangat dan penuh energi positif.

Banyak dari mereka sudah mengenal Ustaz Hanan Attaki melalui platform, seperti TikTok dan YouTube, di mana gaya ceramahnya dikenal santai, relate, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Malam itu, mereka tidak hanya datang untuk mendengarkan ceramah.

Mereka datang membawa harapan, mencari jawaban atas kegelisahan, menemukan ketenangan, dan pulang dengan hati yang lebih ringan.


Kisah Perempuan Mulia, dari Khadijah hingga Fatimah yang Getarkan Hati

Ketika Ustaz Hanan Attaki naik ke panggung, dengan gaya khasnya, busana kasual dan kupluk, suasana langsung pecah oleh riuh tepuk tangan dan takbir.

Energi di dalam gedung terasa hidup. Dalam tausiyahnya, beliau membahas kisah perempuan-perempuan mulia dalam Al-Qur’an dan hadist, yang relevan dengan kehidupan perempuan masa kini.

Kisah pertama yang diangkat adalah Khadijah binti Khuwailid.

Ia digambarkan bukan hanya sebagai istri Rasulullah, tetapi sebagai sosok yang menjadi penopang utama dakwah di masa awal Islam.

Saat Rasulullah menerima wahyu pertama dan diliputi ketakutan, Khadijah adalah orang pertama yang menenangkan dan percaya.

Pesan yang disampaikan begitu dalam, kehadiran seorang perempuan dalam hidup seseorang bisa menjadi kekuatan luar biasa, terutama ketika ia hadir di saat semua orang belum percaya.

Selanjutnya, Ustaz Hanan mengangkat kisah Maryam binti Imran.

Sosok perempuan yang diuji dengan tuduhan dan tekanan sosial yang berat, namun tetap menjaga iman dan kesucian dirinya.

Maryam tidak melawan dengan kata-kata, melainkan dengan kepercayaan penuh kepada Allah.

Pesannya sederhana namun kuat, bahwa tidak semua tuduhan harus dijawab.

Kadang cukup diam dan biarkan Allah yang membela.

Suasana semakin hening saat kisah Asiyah, istri Firaun, disampaikan.

Hidup dalam lingkungan penuh kezaliman tidak membuatnya goyah.

Ia tetap beriman dengan teguh, bahkan rela menghadapi konsekuensi berat demi mempertahankan keyakinannya.

Dari kisah ini, tersirat pesan bahwa lingkungan buruk tidak selalu menentukan siapa kita, iman yang kuat adalah kunci utamanya.

Ustaz Hanan juga membahas Hafsah binti Umar, sosok perempuan tegas yang dikenal dengan keteguhan ibadahnya.

Bahkan dalam sejarah, Allah memerintahkan Nabi untuk merujuknya kembali karena kualitas ibadahnya yang luar biasa.

Dan akhirnya, kisah ditutup dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah yang hidup sederhana namun penuh makna.

Ia menjadi simbol bahwa kekuatan perempuan tidak diukur dari materi, tetapi dari ketulusan, kesabaran, dan cintanya kepada keluarga serta Allah.


Sesi Tanya Jawab Pecah, dari Curhat Haru hingga Pertanyaan Kocak

Memasuki sesi tanya jawab, suasana berubah menjadi lebih interaktif.
Banyak peserta memanfaatkan momen ini untuk melontarkan pertanyaan yang sangat personal.

Seorang ibu muda mengungkapkan kegelisahannya tentang suami yang kurang perhatian.

Dengan penuh empati, Ustaz Hanan menjawab bahwa kesabaran bukan berarti diam, melainkan memilih cara yang baik dalam menyampaikan perasaan.

Lalu seorang remaja putri bertanya tentang rasa insecure akibat media sosial.

Jawaban yang diberikan langsung mengundang tawa, sekaligus renungan, membandingkan diri dengan orang lain di media sosial hanya akan menyakiti diri sendiri secara terus-menerus.

Namun puncak suasana terjadi saat muncul pertanyaan yang unik dan mengundang gelak tawa seluruh ruangan.

Seorang ibu dengan santai bertanya tentang alasan Ustaz Hanan sering memakai pakaian bermotif bunga.

Apakah itu pilihan pribadi atau karena pengaruh istri?

Dengan santai dan penuh humor, beliau menjawab bahwa ia memang menyukai motif bunga.

Bahkan ia menambahkan, bunga adalah simbol kelembutan dan keindahan, sekaligus mengajak audiens untuk berpikir lebih luas tentang stigma yang ada.

Jawaban tersebut langsung disambut tawa dan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta.

Malam itu berakhir menjelang pukul 23.00 WITA, namun kesan yang ditinggalkan terasa mendalam.

Banyak peserta yang masih bertahan, berbincang, dan merenungkan isi ceramah.

Tausiyah ini bukan sekadar acara keagamaan, tetapi menjadi ruang refleksi bagi ribuan perempuan untuk kembali memahami makna kekuatan, keimanan, dan peran mereka dalam kehidupan.

Sebuah malam yang bukan hanya ramai, tetapi juga penuh makna.

Sebuah momen yang akan terus diingat oleh perempuan-perempuan di Kutai Kartanegara. ((Pemerhati Sosial dan Buday)



Pasang Iklan
Top