• Minggu, 31 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kenangan di Lapangan Pemuda: Ketika Seorang Bupati Berjumpa Rakyat Biasa (Riyawan,S.Hut)

TENGGARONG,(KutaiRaya.com): Pagi yang cerah di Tenggarong menjadi awal dari sebuah kenangan yang tak lekang oleh waktu bagi sosok Riyawan, SHut, Ketua Lembaga Data Plus Indonesia (DPI).

Ia dan istrinya, hari itu bukan sekadar menyaksikan pacuan kuda di Lapangan Pemuda, melainkan perjalanan sederhana yang berujung pada pertemuan tak terduga dengan sosok pemimpin daerah.

Berangkat sejak pagi menggunakan motor bebek tua berwarna biru, pasangan ini menyusuri jalanan bersama warga lain yang memiliki tujuan serupa.

Tanpa gawai dan media sosial, kabar tentang pacuan kuda kala itu menyebar dari mulut ke mulut, menciptakan suasana kebersamaan, bahkan sebelum acara dimulai.

Sesampainya di Lapangan Pemuda, keramaian sudah terlihat.

Masyarakat dari berbagai kalangan memadati area, duduk beralaskan kain seadanya, menanti lomba dimulai.

Tidak ada fasilitas mewah, namun justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan kehangatan dan keakraban.

Di tengah suasana tersebut, Riyawan dikejutkan oleh sebuah pertemuan singkat.

Ia menyapa seorang pria berpenampilan sederhana yang berdiri tak jauh darinya.

Percakapan ringanpun mengalir, membahas soal perjalanan hingga kendaraan yang digunakan.

"Yang penting semangatnya, mas," ujar pria itu sambil tersenyum hangat.

Riyawan tak menyangka, sosok yang diajak berbincang santai tersebut adalah Syaukani Hasan Rais, pemimpin daerah yang dikenal luas oleh masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar).

Tanpa pengawalan mencolok dan tanpa jarak dengan warga, Syaukani hadir sebagai bagian dari kerumunan.

Momen sederhana itu justru meninggalkan kesan mendalam bagi Riyawan dan istrinya.

"Beliau tidak melihat kami dari apa yang kami pakai atau kendarai, tapi dari niat kami datang," kenangnya.

Sementara itu, pacuan kuda berlangsung meriah.

Sorak-sorai penonton menggema saat kuda-kuda berpacu di lintasan, debu beterbangan, dan para joki muda menunjukkan keberanian mereka.

Suasana penuh emosi, bercampur tegang, gembira, dan haru menjadi satu dalam kebersamaan ribuan warga.

Tak hanya menjadi hiburan, kegiatan ini juga menghadirkan interaksi sosial yang hangat.

Pedagang kecil menjajakan makanan ringan, anak-anak berlarian, dan keluarga menikmati waktu bersama.

Bagi Riyawan, hari itu menyimpan lebih dari sekadar tontonan.

Ini menjadi pelajaran hidup tentang arti kesederhanaan, ketulusan, dan kepemimpinan yang merakyat.

Kini, meski waktu telah berlalu dan banyak hal berubah, kenangan itu tetap hidup.

Dia menceritakan kembali kepada anak dan cucu.Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan tidak pernah lekang oleh zaman.

"Yang kami ingat bukan hanya pacuan kudanya, tapi bahwa kami pernah bertemu pemimpin yang benar-benar melihat rakyatnya sebagai manusia," ucapnya. (*)



Pasang Iklan
Top