
Kalapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, Riva Dilyanti.(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Stigma bahwa narapidana akan terus terjebak dalam masa lalu perlahan dipatahkan. Di Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, pembinaan bukan sekedar rutinitas, melainkan upaya nyata mengubah hidup. Di balik tembok tinggi, harapan itu dirawat melalui keterampilan, kreativitas, perubahan pola pikir, bahkan keseniannya.
Kalapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, Riva Dilyanti menegaskan, pembinaan di dalam lapas melibatkan banyak pihak.
"Ada tiga unsur, mas, dari petugas pemasyarakatan itu sendiri, dari warga binaan, dan dari masyarakat. Dan tentunya juga dukungan dari pemerintah daerah," ujarnya pada KutaiRaya.com, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, program pembinaan tidak hanya fokus pada kepribadian, tetapi juga kemandirian. Semua warga binaan terlebih dahulu menjalani asesmen untuk mengetahui minat dan bakat mereka. Dari situlah pelatihan diberikan.
"Kami memberikan pembinaan berdasarkan minat dan bakat. Kami fasilitasi yang memang menjanjikan di pasar, jadi nanti ketika mereka keluar bisa langsung diaplikasikan di masyarakat," sebutnya.
Berbagai kegiatan pun hadir, mulai dari yang mendukung ketahanan pangan seperti perkebunan dan hidroponik, hingga pelatihan keterampilan. Di dalam lapas, terdapat usaha laundry, salon, tata boga, hingga kerajinan seperti sulam tumpar yang sudah memiliki hak cipta resmi. Selain itu, ada juga kegiatan merajut dan pelatihan menjahit yang saat ini sedang berjalan.
"Kami bekerja sama dengan BPVP Provinsi Kaltim. Harapannya setelah mereka lulus uji kompetensi, bisa disalurkan melalui kemanaker dan siap kerja," tambahnya.
Mayoritas warga binaan di lapas ini, sekitar 80 persen, terjerat kasus narkotika. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama.
"Kebanyakan dari faktor ekonomi yang membuat mereka akhirnya mencari jalan pintas," tuturnya.
Karena itu, perubahan mindset menjadi hal utama.
"Kami ubah dulu pola pikir mereka. Segala sesuatu yang didapatkan secara instan itu hasilnya tidak akan baik," tegasnya.
Hasilnya mulai terlihat. Sejumlah mantan warga binaan kini mampu mandiri setelah bebas. Ada yang membuka usaha kue, katering, hingga jasa jahit.
"Ada yang tadinya tidak bisa memasak, sekarang sudah buka usaha sendiri. Kalau menjahit, banyak yang mulai dari permak baju, dan itu sangat dibutuhkan masyarakat," katanya.
"Kami berharap masyarakat bisa menerima mereka dengan tangan terbuka. Lingkungan yang positif akan membentuk karakter mereka menjadi lebih baik," ucapnya.
Di dalam lapas sendiri, semangat belajar juga terus tumbuh. Perpustakaan menjadi salah satu pusat aktivitas warga binaan. Banyak yang antusias membaca, bahkan ikut menyumbangkan buku. (*Zar)