
Tangga Arung Square.(Foto: Achmad Rizki/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Sebanyak 121 lapak di Tangga Arung Square (TAS) masih tutup, sejak peresmian hingga saat ini.
Data ini diperoleh berdasarkan pendataan terbaru, yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar.
Plt Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah mengatakan, tren para pedagang yang telah mendapatkan lapak di TAS, untuk membuka lapaknya atau melakukan aktivitas berjualan terus meningkat hingga 70-80 persen, dari sebelumnya hanya 40 persen.
"Kami sangat bersyukur para pedagang telah membuka lapaknya atau melakukan aktivitas berjualan di TAS," kata Sayid kepada Kutairaya, Sabtu (4/4/2026).
Menurutnya, jika lapak itu tak dibuka, maka perlu dipertanyakan, bagaimana para pedagang membayar retribusi lapak tersebut.
"Jika para pedagang tak segera membuka lapaknya, maka akan kesulitan untuk membayar retribusi lapak tersebut. Lapak tersebut dikenakan retribusi, yang merupakan kewajiban bagi pedagang," ucapnya.
Selain itu, bagi pedagang yang telah mendapatkan lapak dan tak segera dibuka, maka lapak tersebut akan ditarik kembali oleh pemerintah daerah.
Dalam hal ini, pemerintah daerah meminta pendampingan kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Kukar untuk melakukan penyitaan lapak yang belum dibuka.
"Jika yang bersangkutan tak sanggup melakukan aktivitas berjualan di TAS, maka bisa dikembalikan dengan baik kepada pemerintah daerah," ujarnya.
Sementara itu pedagang TAS, Selviana Putri menuturkan, mulai berjualan di TAS ini pada Februari 2026 lalu.
Pada bulan pertama, omzet penjualan bisa mencapai Rp 1 juta.
"Tapi, hingga saat ini omzet penjualan hanya sekitar Rp 200 ribu setiap harinya," kata Selvianan.
Dia berharap dengan para pedagang yang membuka lapak mereka atau melakukan aktivitas berjualan, bisa memberikan manfaat bagi pedagang lainnya, terlebih pada peningkatan omzet penjualan. (Ary)