
Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga PUPR Kota Samarinda, Budy Santoso.(Foto : Abi/KutaiRaya)
SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, Budy Santoso memastikan, penanganan longsor di Jalan Tembusan Merdeka, telah masuk dalam perencanaan anggaran tahun ini sebagai prioritas infrastruktur.
Sebagai informasi, kawasan jalan tembusan Merdeka memang dikenal memiliki kontur tebing yang curam dan berisiko, sehingga potensi longsor menjadi ancaman berulang terhadap akses jalan dan keselamatan pengguna. Kondisi ini menuntut penanganan yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga berbasis mitigasi jangka panjang, mengingat masih terdapat beberapa titik rawan yang belum sepenuhnya tertangani karena keterbatasan anggaran.
Menurutnya Budy, potensi longsor di kawasan tersebut sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya, sehingga pemerintah mengalokasikan dana khusus untuk penanganannya.
“Tahun ini sudah ada anggarannya. Memang sudah diperkirakan ada potensi longsor, makanya kita siapkan penanganannya,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Ia menjelaskan, untuk titik longsor terbaru, pihaknya memilih metode penggalian tebing dibandingkan pemasangan turap.
“Yang longsor kemarin itu kita hilangkan saja bagian yang rawan. Kita gali masuk sekitar 5 sampai 10 meter supaya kalau longsor lagi tidak kena badan jalan,” jelasnya.
Ia menilai, opsi turap belum tentu memungkinkan karena menyangkut kepemilikan lahan dan potensi pembangunan oleh pemilik tanah. Dengan metode penggalian, risiko longsor ke badan jalan bisa diminimalkan tanpa membatasi pemanfaatan lahan oleh pemiliknya.
Untuk penanganan longsor tersebut, PUPR mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 miliar, yang difokuskan pada perbaikan tebing longsor.
“Sekitar Rp5 miliar untuk penanganan longsornya saja. Kalau jalan sebelumnya sudah selesai,” katanya.
Saat ini, tim Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) telah melakukan pembersihan material longsor, sebagai langkah darurat agar akses tetap bisa dilalui.
“Sekarang masih tahap darurat, membersihkan material dulu,” ujarnya.
Terkait drainase, ia menyebutkan bahwa, sistem pengaliran air di area tebing tetap diperhatikan, untuk mencegah air memotong badan jalan dan memicu longsor baru, meski panjang drainase tidak terlalu signifikan.
Ia juga mengakui, terdapat beberapa titik rawan lain di jalur tersebut, terutama pada bagian dengan tebing tinggi. Namun, penanganannya membutuhkan biaya besar sehingga dilakukan bertahap sesuai kemampuan anggaran.
“Memang ada beberapa titik rawan, tapi biayanya juga cukup besar, jadi kita lakukan bertahap,” pungkasnya. (*Abi)