• Sabtu, 07 Maret 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Sekretaris Dispora Kukar, Derry Wardhana.(Foto : Achmad Nizar/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Meski di tengah keterbatasan anggaran, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tetap berkomitmen menjalankan program Klinik Wirausaha Pemuda Mandiri (WPM) sebagai salah satu upaya menurunkan angka kemiskinan, khususnya di kalangan pemuda.

Sekretaris Dispora Kukar, Derry Wardhana mengatakan, Klinik WPM merupakan program prioritas yang fokus pada peningkatan sumber daya manusia (SDM) pemuda.

Program ini direncanakan mulai berjalan pada April 2026, dengan berbagai pelatihan keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan pemuda di lapangan.

"Insyaallah di bulan April kita sudah mulai melaksanakan Klinik WPM. Ada beberapa pelatihan yang akan kita jalankan, mulai dari pelatihan barista, barber, laundry, perbengkelan motor, hingga manajemen bisnis wirausaha, branding, dan digital marketing," ujar Derry pada Kutairaya.com di Tenggarong, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, seluruh pelatihan tersebut telah disosialisasikan melalui kelurahan dan desa yang sebelumnya mengusulkan kegiatan kepemudaan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Program yang diusulkan pada Musrenbang tahun 2025 tersebut akan direalisasikan pada tahun 2026.

"Usulan dari kelurahan dan desa terkait peningkatan SDM pemuda sudah kita tindak lanjuti. Jadi 2026 ini adalah tahun pelaksanaannya," jelasnya.

Ia juga menerangkan, mengenai keberhasilan Klinik WPM pada tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, banyak pemuda yang telah mengikuti pelatihan kini mampu membuka usaha sendiri dan mulai mandiri secara ekonomi.

"Peserta Klinik WPM ini memang kita fokuskan untuk wirausaha pemula, mereka yang baru ingin memulai usaha. Di sinilah Dispora hadir, memberikan pemahaman dasar tentang bagaimana memulai dan mengelola usaha sebelum mereka terjun langsung," katanya.

Untuk tahun 2026, pihaknya menargetkan penurunan angka kemiskinan pemuda, khususnya yang masuk dalam data P3KE dan DTKS, dengan usia 16 hingga 30 tahun. Penetapan sasaran dilakukan melalui verifikasi faktual di lapangan berdasarkan usulan kelurahan dan desa.

"Kami tidak langsung menetapkan sasaran. Tim melakukan verifikasi faktual untuk memastikan apakah mereka benar-benar membutuhkan pelatihan dan sesuai dengan program yang kami siapkan," ungkapnya.

Selain itu, calon peserta juga diberikan kesempatan memilih jenis pelatihan sesuai minat dan rencana usaha mereka, mulai dari perbengkelan, barista, barber, hingga usaha lainnya.

"Kalau mereka sudah ikut program, otomatis terdata bahwa sudah diintervensi oleh Dispora melalui Klinik WPM. Dari situ kita bisa melihat dampaknya. Insyaallah, angka kemiskinan pemuda akan terus menurun dari tahun ke tahun," pungkasnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top