
Lahan Sawah di Loa Kulu.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat sinergi dengan Perum Bulog dalam upaya penyerapan gabah dan jagung petani, khususnya di wilayah yang masuk program optimasi lahan.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik mengatakan, penyerapan gabah dan jagung menjadi komoditas strategis yang mendapat perhatian serius pemerintah daerah.
Pada tahun lalu, kerja sama dengan Bulog berjalan cukup baik, terutama untuk wilayah optimasi lahan yang gabahnya wajib diserap Bulog.
“Gabah yang diserap adalah gabah kering panen, dengan harga kemarin Rp 6.500 per kilogram. Harga itu cukup menggiurkan bagi petani,” ujar Taufik belum lama ini.
Ia menjelaskan, Distanak Kukar memfasilitasi kerja sama antara Bulog dengan kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) melalui pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Perjanjian kerja sama tersebut difasilitasi dan ditandatangani dengan rekomendasi dari Distanak.
Kendati demikian, pada pelaksanaannya terdapat sejumlah kendala, terutama terkait mekanisme pengangkutan dan pengeringan gabah.
Bulog memiliki keterbatasan untuk mengambil gabah langsung dari sawah, sehingga proses pengeringan dilakukan oleh gapoktan atau penggilingan padi (RMU) yang sudah memiliki fasilitas.
“Beberapa lokasi seperti Anggana dan Marang Kayu sudah memiliki fasilitas pengeringan dan RMU. Tapi itu tentu ada biaya tambahan untuk pengeringan,” tuturnya.
Selain itu, keterbatasan gudang Bulog untuk menampung gabah kering giling membuat Bulog lebih banyak menyerap dalam bentuk beras.
Proses penggilingan menjadi tanggung jawab Bulog, namun dalam praktiknya melibatkan gapoktan dan penggilingan dengan margin sekitar Rp 3.000 per kilogram.
Taufik mengemukakan, pada musim panen tahun ini, masih ada kelompok tani yang mempertanyakan penyerapan gabah oleh Bulog.
Pihaknyapun telah berkoordinasi langsung dengan Bulog agar penyerapan kembali dilakukan.
“Kami minta data wilayah yang panen untuk disampaikan ke Bulog, seperti di Anggana dan wilayah lainnya, supaya bisa diserap,” katanya.
Ia menambahkan, tidak semua wilayah menjadi mitra Bulog karena cakupan penyerapan belum mencapai 100 persen.
Di beberapa daerah, seperti Samboja, hasil produksi beras relatif kecil dan dapat langsung dijual di tingkat lokal dengan harga yang lebih tinggi dari harga Bulog.
“Bulog sebaiknya fokus di wilayah yang overproduksi, supaya harga tidak jatuh. Kalau overproduksi, Bulog masuk dengan harga Rp 6.500,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno, menyambut baik program kerja sama Distanak Kukar dengan Bulog dalam menampung gabah petani.
Menurutnya, program tersebut sangat membantu petani dalam menjaga stabilitas harga saat musim panen.
“Kami sangat mendukung, karena petani merasa lebih tenang kalau hasil panennya ada yang menampung,” ucapnya. (Dri)