• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar Muslik.(Foto: Andri Wahyudi/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Fenomena air Sungai Mahakam bangar atau keruh yang terjadi 2 hari terakhir ini di Tenggarong dan sekitarnya membawa berkah bagi masyarakat.

Namun kondisi ini juga memberikan dampak bagi para pembudidaya ikan yang ada di bantaran Sungai Mahakam.

Hal ini mendapatkan perhatian dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kutai Kartanegara (Kukar) agar bisa diantisipasi agar tidak terjadi kerugian.

Kepala DKP Kabupaten Kukar, Muslik mengatakan, fenomena air bangar yang kembali terjadi di Sungai Mahakam merupakan kejadian alami dan rutin, yang kerap muncul akibat perubahan debit air dari wilayah hulu.

“Fenomena air bangar ini sebenarnya sudah biasa. Bisa terjadi setahun sekali, bahkan dulu hampir 5 tahun sekali. Umumnya muncul setelah terjadi banjir di hulu, lalu debit air di daerah rawa-rawa meningkat dan kembali surut,” kata Muslik, Rabu (28/1/2026).

Ia menerangkan, wilayah Mahakam Tengah yang didominasi kawasan rawa menjadi tempat berkumpulnya material organik seperti gulma.

Saat air surut, material tersebut terbawa ke Sungai Mahakam dan menyebabkan air bersifat asam, terlebih saat cuaca panas.

“Air yang bersifat asam ini menyebabkan perubahan kualitas air secara mendadak, seperti penurunan pH dan kadar oksigen terlarut. Kondisi inilah yang membuat ikan menjadi stres, tidak mau makan, bahkan mabuk,” ujarnya.

Muslik menerangkan, hampir semua jenis ikan terdampak, namun yang paling rentan adalah ikan yang membutuhkan oksigen tinggi serta biota yang pergerakannya lambat, seperti udang, ikan patin, dan jenis ikan putih lainnya.

“Sebetulnya ikan punya kemampuan mendeteksi perubahan lingkungan, tapi karena volumenya sangat besar dan perubahan terjadi cepat, mereka tidak sempat menghindar,” tambahnya.

Menanggapi kondisi ini, DKP Kukar telah melakukan imbauan sejak dini kepada para pembudidaya ikan, terutama yang melakukan budidaya di perairan umum.

Langkah antisipasi yang disarankan, antara lain panen lebih awal, penjarangan ikan, evakuasi indukan, serta penggunaan alat aerasi bila tersedia.

“Kami juga mengingatkan agar ikan tidak dipaksakan diberi pakan saat kondisi air menurun kualitasnya. Itu justru bisa memperparah kondisi,” ucap Muslik.

Meskipun terdapat laporan ikan tidak mau makan, Muslik memastikan hingga saat ini belum ada laporan kematian ikan dalam jumlah besar.

Menurutnya, para pembudidaya sudah cukup memahami risiko budidaya di perairan umum yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, berbeda dengan kolam tertutup.

“Yang terpenting adalah bagaimana membaca gejala alam ini agar kerugian bisa diminimalkan. Itu tugas kami untuk terus memberikan pemahaman,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang warga, Dani mengaku bersyukur dengan fenomena air bangar tersebut.

Ia mengatakan, banyak ikan patin dan udang yang mabuk sehingga mudah ditangkap warga.

“Fenomena seperti ini jarang terjadi. Warga ramai-ramai menangkap ikan dan udang di sepanjang Sungai Mahakam. Lumayan, bisa dinikmati bersama keluarga,” ujarnya.

Menurut Dani, momen tersebut menjadi kesempatan langka bagi masyarakat untuk mendapatkan hasil tangkapan alami tanpa harus melaut atau memasang alat tangkap khusus. (Dri)



Pasang Iklan
Top