• Kamis, 17 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Penampilan seni Beladon dari Mamanda Panji Berseri.(Foto: Dok. Mamanda Panji Berseri)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Ditengah perkembangan seni modern, terdapat seni lisan tradisional khas Kutai bernama Beladon yang kini nyaris terlupakan. Namun, di Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), seni ini masih terus dijaga dan dilestarikan oleh Komunitas Mamanda Panji Berseri.

Beladon merupakan seni lisan yang dicampur dengan musik dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan Mamanda, teater tradisional khas Kutai yang telah ada sejak zaman kesultanan.

Seni Beladon biasanya dimainkan sebagai pembuka acara, menandai dimulainya pertunjukan Mamanda.

Pemusik Mamanda Panji Berseri, Muhammad Noor menjelaskan, setiap pementasan Mamanda hampir selalu diawali dengan Beladon. Bahkan sebelum raja-raja bersidang, Seni Beladon menjadi pertunjukan pertama yang dipentaskan sebagai tanda dimulainya.

"Kalau ada Mamanda, pasti ada Beladon. Itu kesenian yang tidak bisa dipisahkan. Beladon ini tanda bahwa Mamanda akan dimulai," ujar Muhammad Noor pada Kutairaya.com saat dihubungi, Senin (26/1/2026).

Komunitas Mamanda Panji Berseri terbentuk secara resmi sejak sekitar 2004. Namun, cikal bakalnya sudah ada jauh sebelumnya, di era 1990an, sebagai peralihan dari kesenian Sendima (Sendiwara Mamanda).

Nama Panji Berseri sendiri diambil dari nama daerah tempat komunitas ini tumbuh dan berkembang yaitu Kelurahan Panji.

Beladon sendiri memiliki ciri khas irama yang berbeda-beda di setiap daerah, namun tetap berada dalam satu rumpun seni yang sama.

"Beladon ini seni lisan yang dikombinasikan dengan Mamanda. Bisa berdiri sendiri, tapi kalau Mamanda, ya Beladon harus ada," ucapnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, seni Beladon jarang terdengar di ruang publik. Hal ini justru membuat setiap pementasan Beladon selalu menarik perhatian masyarakat, terutama saat tampil di acara-acara di Tenggarong seperti SOE.

"Penonton biasanya kagum. Banyak yang bilang, oh ternyata ada musik seperti ini. Karena memang jarang ditampilkan, jadi mereka baru dengar dan baru lihat," katanya.

"Kami berharap setiap ada event di Kukar, kami bisa diikutsertakan. Supaya masyarakat yang belum pernah menonton bisa melihat langsung," tuturnya.

Selain itu, perhatian juga dibutuhkan dalam hal dukungan sapras, mengingat alat-alat yang digunakan masih sangat sederhana.

Karena seni ini membawa nama Kutai dan merupakan warisan budaya lama yang hampir punah, sehingga layak mendapatkan perhatian lebih.

"Ini kesenian daerah Kutai. Harapannya, sedikit dilirik dan diperhatikan, jangan sampai kalah dengan kesenian luar. Karena ini warisan budaya kita sendiri," tutupnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top