• Senin, 03 Agustus 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Perkumpulan Anggota Komunitas Assibyan.(Foto: Achmad Nizar/Kutairaya)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Terdapat Komunitas Hadrah yang bertahan sejak berdiri tahun 2018 hingga kini untuk melestarikan seni melalui musik rebana.

Komunitas ini berlokasi di Gang Sekumpul, Kelurahan Melayu, dan terus menunjukkan perkembangan yang positif.

Komunitas ini menjadi wadah bagi anak-anak dan remaja untuk belajar seni hadrah sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini.

Sekretaris Komunitas Hadrah Assibyan, Erna Ariana, menceritakan awal mula terbentuknya komunitas ini berangkat dari kecintaan keluarga terhadap seni hadrah.

Ia bersama suaminya yang juga merupakan pemain hadrah, mulai mengajak anak-anak di sekitar rumah untuk belajar bersama secara sederhana.

"Awalnya hanya iseng mengumpulkan anak-anak yang mau belajar hadrah. Lama-kelamaan yang ikut semakin banyak, tapi belum ada wadah untuk tampil. Akhirnya kami buat majelis kecil-kecilan di rumah,"ujar Erna pada Kutairaya.com di Tenggarong, Selasa (13/1/2026).

Komunitas Hadrah Assibyan ini terbentuk pada 28 Agustus 2018. Dan nama Assibyan sendiri memiliki makna anak-anak, sesuai dengan tujuan komunitas ini yang fokus pada pembinaan generasi muda melalui seni islami.

Dalam kegiatan rutinnya, Assibyan menggelar majelis hadrah yang biasanya dilaksanakan pada malam Minggu. Selain itu, komunitas ini juga aktif mengikuti berbagai festival habsyi sebagai ajang pengembangan bakat dan pengalaman bagi para anggotanya.

Saat ini, jumlah anggota Komunitas Hadrah Assibyan mencapai kurang lebih 80 orang yang terdiri dari anak-anak putra dan putri. Perkembangan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

Assibyan juga pernah mendapatkan bantuan berupa alat hadrah dan sound system dari Bupati Kukar.

Tapi, dalam mempertahankan eksisnya komunitas, Assibyan juga menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu, kesibukan masing-masing anggota, serta faktor ekonomi menjadi tantangan yang membuat kegiatan majelis tidak bisa serutin seperti sebelumnya.

"Kendalanya sekarang majelis tidak bisa serutin dulu karena waktu dan kesibukan, ditambah faktor ekonomi juga membatasi," ungkapnya.

Ia berharap, Komunitas Hadrah Assibyan dapat kembali mengadakan majelis rutin seperti dulu dan terus aktif mengikuti festival habsyi, khususnya di wilayah Kalimantan Timur.

"Harapan kami semoga Assibyan bisa rutin lagi dan selalu ikut festival habsyi di Kalimantan Timur," pungkasnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top