• Jum'at, 15 Mei 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Foto bersama anggota pada saat tampil di AWUH, beberapa hari lalu.(Foto: Dok. Tingkilan Amanah Kita)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Seni tingkilan sebagai salah satu warisan budaya khas Kutai yang harus terus dijaga, salah satunya oleh komunitas yang berada di tanah hulu atau Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kukar. komunitas tersebut adalah Tingkilan Amanah Kita, sebuah komunitas yang lahir dari semangat meneruskan generasi tingkilan dulu. Komunitas Tingkilan Amanah Kita terbentuk sekitar dua tahun lalu atau 2023.

Bendahara komunitas, Mardiya menjelaskan, awal berdirinya komunitas ini berasal dari keprihatinan, melihat seni tingkilan di Kota Bangun yang mulai vakum.

"Di daerah kami ini, yang dulu-dulu sudah tidak ada lagi. Banyak pelaku seni tingkilan generasi lama yang sudah meninggal dunia," ujar Mardiya pada Kutairaya.com saat dihubungi, Senin (22/12/2025).

Melihat kondisi tersebut, Mardiya bersama suaminya berinisiatif mengajak teman-teman yang masih peduli terhadap seni tingkilan untuk kembali membentuk sebuah kelompok. Tujuannya untuk melanjutkan dan menjaga agar seni tingkilan tidak hilang di Kota Bangun.

Namun dalam perjalanannya, komunitas ini banyak menghadapi berbagai kendala. Salah satunya yang kini masih dirasakan, terkait keterbatasan alat musik tingkilan.

"Jujur saja, waktu kami tampil kemarin itu di AWUH, alatnya bukan kurang, tapi memang tidak ada sama sekali. Jadi siapa yang punya alat, itulah yang dibawa," jelasnya.

Saat tampil di acara Acara Wadeh Urang Hulu (AWUH), para anggota harus meminjam alat dari teman-temannya. Hingga kini, belum ada bantuan alat yang layak dari pemerintah daerah.

"Belum ada respon dari pemerintah daerah. Ada memang yang pernah dikasih, tapi alatnya sudah rusak," ungkapnya.

Ia menegaskan, sebenarnya kualitas seni tingkilan di Kota Bangun sudah sangat baik dan memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Hanya saja, kurangnya perhatian dan dukungan, terutama dari pemerintah daerah.

"Kalau untuk seninya, tingkilan di Kota Bangun ini sebenarnya sudah sangat bagus. Cuma memang kurang perhatian saja," tambahnya.

Nama "Amanah Kita" sendiri memiliki makna sendiri dan sesuai dengan tujuan awalnya. Menurutnya, nama tersebut dipilih sebagai bentuk tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan para seniman tingkilan.

"Amanah itu maksudnya, amanah dari teman-teman yang dulu. Kami yang masih tersisa ini merasa punya tanggung jawab untuk meneruskan," tuturnya.

Ia berharap, dengan adanya Tingkilan Amanah Kita, pemerintah dapat melirik dan memberikan perhatian untuk komunitasnya.

"Kami dalam setahun, baru AWUH, karena terkendala di alat, jadi kami berharap untuk pemerintah, agar dapat melirik kami dan memberikan bantuan alat, agar seni Tingkilan di Kota Bangun terus berkembang, " tukasnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top