
Rumah produksi songkok di Tenggarong.(Foto: Achmad Rizki/KutaiRaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Merasa dikecewakan oleh pengrajin atau produsen songkok, warga Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong nekat belajar memproduksi songkok terlebih khas Kutai.
Warga tersebut bernama Badrudin. Ia membuat songkok itu secara otodidak pada 2023 lalu dengan mengamati songkok yang telah jadi, kemudian dibongkar untuk ditiru. Dalam memproduksi songkok, tak sedikit bahan yang dibuang sia-sia, akibat gagal produk.
Produksi gagal itu masih hal yang lumrah dalam proses atau terjun ke dunia usaha. Namun hal itu tak membuat patah semangat, untuk terus belajar dan memproduksi. Lebih merasa kecewa jika partner bisnisnya tidak komitmen.
Sementara, ada pepatah jika tidak mencoba maka dipastikan gagal, jika mencoba hal baru ada kemungkinan gagal.
"Sebelumnya saya ini penjual songkok di Pasar Tangga Arung. Hingga akhirnya produsen yang dipercaya tidak komitmen sehingga saya belajar produksi sendiri," kata Badrudin pada Kutairaya, di rumah produksi songkok, Kamis (7/8/2025).
Seiring berjalannya waktu, berbagai macam songkok yang diproduksi dan dipasarkan melalui aplikasi e-commerce Shoppe itu laku. Meskipun produk itu masih jauh dari sempurna. Hal ini yang menjadi motivasi, untuk berbenah dan memproduksi kembali.
"Saya terus berbenah dan menemukan teknik yang tepat dalam memproduksi songkok," ucapnya.
Produk yang dinilai sudah tepat ini dipasarkan kembali lewat Shoppe dan para pedagang di Pasar Lapangan Pemuda. Ternyata produk itu sangat diminati oleh konsumen, termasuk songkok khas Kutai.
Melihat pasar yang menjanjikan, ia terus memproduksi songkok sesuai dengan permintaan para pedagang maupun dipasarkan secara online. Dalam sebulan saat ini bisa memproduksi 60 sampai 100 songkok.
"Untuk penjualan online biasanya hanya 30 biji per bulannya," ujarnya.
Dalam memproduksi songkok, ia menggunakan berbagai macam bahan mulai dari kualitas standart, hingga kualitas tinggi. Hal ini tergantung dari pesanan dan harga menyesuaikan.
"Harga songkok per bijinya dari Rp 30-55 ribu, tergantung dari bahan bahannya," sebutnya.
Badrudin juga mengaku, sering kebanjiran orderan pada momen-momen tertentu, baik di bulan Ramadhan, pelaksanaan Erau, maupun dari sejumlah Instansi pemerintah daerah.
"Ada yang pesan 50-250 biji, kita selalu siap menerima sebanyak apapun orderan asal sesuai dengan waktunya," imbuhnya.
Sementara omset yang diperoleh dalam sebulan sekitar Rp 3-4 juta. Dengan perolehan omset seperti itu dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Pihaknya juga menyampaikan rasa syukur kepada konsumen, yang telah percaya dengan produk songkok asal Tenggarong. Artinya produk lokal juga mampu bersaing dengan produk luar daerah lainnya. (Ary)