• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Usaha butik milik Risma Pengusaha Muda Asal Tenggarong Seberang


TENGGARONG (KutaiRaya.com) Menjalankan bisnis atau usaha bagi pemula itu tak mudah. Hal itu dipengaruhi karena belum memiliki pengalaman bahkan masih diselimuti rasa kekhawatiran terhadap kegagalan dalam mengelola usaha tersebut.

Berbeda dengan salah satu pemudi asal Desa Perjiwa Kecamatan Tenggarong Seberang Risma Amalia (22). Dirinya sangat mencintai dan menjiwai bisnis sejak masih sekolah. Saat itu Risma hanya iseng menjual aksesoris yang dipakai oleh dirinya dan diminati oleh rekannya.

Sehingga aksesoris yang ia kenakan tersebut rela dijual, dengan mengambil keuntungan sedikit. Seiring berjalannya waktu, ia melanjutkan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Kukar yaitu Universitas Kutai Kartanegara.

Di dunia perkuliahan, Risma mulai menambah relasi dan menemukan ide ide baru terkait menjadi wirausaha. Pada 2024 lalu, pihaknya memberanikan diri membuka usaha butik fashion wanita, dengan modal awal sekitar 50 juta rupiah.

"Usaha butik ini dipilih karena kecintaan dan hobi terhadap fashion wanita, untuk bisa tampil lebih menarik," kata Risma Amalia pada Kutairaya, Rabu (2/7/2025).

Sementara usaha butik ini berada di Jalan Gunung Meratus Kecamatan Tenggarong dan diberi nama Yumstudio & Yuma Shawl. Produk yang disediakan di butik ini dijamin memiliki kualitas terbaik dan sangat diminati generasi muda, khususnya pada kaum wanita.

Produk tersebut meliputi baju, kaos, jilbab pernak pernik wanita kekinian. Produk otu didatangkan langsung dari pabriknya yakni Bandung, yang telah dikualifikasikan bahan atau konveksinya serta memakai brand sendiri.

"Sebelum dilakukan produksi, saya pasti mengecek terlebih dahulu terhadap produk yang akan dikirim," ucapnya.

Menurutnya, dengan menjaga kualitas produk diyakini dapat memuaskan konsumen yang membeli produk itu. Dari menjaga kualitas produk, ia telah menerima manfaatnya dengan mengahsilkan sekitar 5 juta - 10 juta per bulannya.

"Dengan adanya pendapatan tetap, saya merekrut karyawan untuk menjaga butik," jelasnya.

Meskipun di Tenggarong telah banyak toko butik, namun ia tetap fokus terhadap pengembangan bisnis sendiri. Karena toko butik lainnya dinilai bukan pesaing atau kompetitor, masing masing memiliki pangsa pasar sendiri.

"Saya fokus pada pemasaran produk sendiri, yang berhak menilai dan memilih itu konsumen karena memiliki selera yang berbeda," ungkapnya.

Ia menyebutkan, produk yang dijual itu mulai dari 20 ribu hingga ratusan ribu. Hal itu dilihat dari jenis produknya. Harapannya usaha butik ini bisa dikenal secara luas dan bisa memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan tenaga kerja. (ary)



Pasang Iklan
Top