• Jum'at, 04 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Plt.Kepala Dinas kesehatan (Diskes) Kukar Ns.Kusnandar.


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Angka stunting Kutai Kartanegara mengalami penurunan signifikan. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI),pada tahun 2024 angka stunting di Kukar mencapai 14,2 persen.

"Angka stunting menurun, tahun tahun sebelumnya capai 27 persen,kemudiana turun menjadi 17 persen dan di 2024 turun jadi 14,2 persen," kata Plt.Kepala Dinas kesehatan (Diskes) Kukar Ns.Kusnandar pada Kutairaya,Minggu (22/6/2025).

Ia mengatakan bahwa upaya dalam menekan angka stunting bukan hanya tanggungjawab Dinas Kesehataan,Dinas Kesehatan hanya memiliki 30 persen dalam penanggulan stunting, penyebab stunting dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sanitasi lingkungan.

Terkait dengan stunting, Dinkes menyediakan makan diet khusus balita yang bermasalah gizi khususnya stunting,tetapi Dinas kesahatan dalam penanganan stunting porsinya hanya 30 persen.

"Karena untuk penurunan stunting kita harus melihar determinannya apa,misalnya karena jamban.Misalnya bayi kita beri gizi yang bagus, tapi bayi itu sering diare karena tertular jambannya tidak baggus,artinya gizi yang dimakan tidak untuk pertumbuhan, tapi untuk mengobati penyakitnya.Artinya determinannya perbaiki dulu sanitasi lingkungannya,itu bukan Dinas Kesehatan tapi itu Dinas Perkim,Dinas akesehatan hanya fokus yang sudah stunting "ungkapnya.

Ia mengatakan perbaikan lingkungan dan sanitasi sangat penting,dan dalam penannggulan angka stunting menjadi tanggungjawab pihak lainnya, seperti Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim).

"Dinas Kesehatan fokus yang sudah stunting,pengobatan stunting sudah menjadi urrusan medis,jadi dokter spesialis anak itu perannya,tetapi kita menyiapkan obat untuk memperbaiki status gizi,"jelasnya.

Untuk tahun 2025, pihaknya menargetkan angka stunting di 14 persen, "Untuk tahun ini target kita masih 14 persen,"tegasnya.

Selain dipengaruhhi oleh santasi lingkungan dan jamban,stunting juga dapat dipengaruhi oleh polah asuh, banyak stunting terjadi bukan karena orang tua tidak mampu,tapi karena kurangnya pengetahuan tentang gizi dan pola makan.

"Polah asuh juga berpengaruh,sekarang banyak makanan cepat saji yang serring dikonsumsi anak,karena makanan cepat saji mungkin dilihat dari enaknya saja tapi kandungan gizi tidak tau,sebetulnya sekarang itu bukan program 4 sehat 5 sempurna tapi isi piringku,"tutupnya. (*zar)



Pasang Iklan
Top