
Pupuk organik dari kotoran sapi di Loa Kulu
TENGGARONG (KutaiRaya.com) Kotoran sapi yang dinilai tak memiliki manfaat dan aroma tak sedap, diolah untuk menjadi pupuk yang bernilai ekonomi. Bahkan dari pengolahan kotaran sapi menjadi pupuk, membuat salah satu warga Desa Sumber Sari Kecamatan Loa Kulu, memiliki penghasilan yang lumayan.
Aris Munandar Warga Desa Loh Sumber Kecamatan Loa Kulu bergelut dalam usaha pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk. Aris Munanda bersama mertuanya sejak tahun 2000 lalu telah memanfaatkan kotoran sapi, sebagai penghasilan atau sumber mata pencarian bagi kehidupan keluarga.
Kebutuhan pupuk untuk menyumburkan tanaman petani sangat diperlukan, sebagian warga Loa Kulu yang berprofesi sebagai petani memanfaatkan pupuk kandang sapi untuk lahan mereka, apalagi diketahui bahwa Kecamatan Loa Kulu, menjadi salah satu wilayah pengembangan pertanian dan perkebunan. Hal itu menjadi motivasi untuk bergelut dalam usaha pengolahan pupuk.
"Awalnya kita hanya memanfaatkan kotoran sapi dari kandang ternak sendiri. Kotoran itu dimanfaatkan sebagai pupuk dan bio gas," kata Aris Munandar pada Kutairaya, Rabu (18/6/2025).
Namun, untuk pengelolaan menjadi bio gas dihentikan. Karena alat alat dalam proses pengelahan bio gas rusak dimakan usia. Sementara proses produksi pupuk dari kotoran sapi juga tak sulit, hal ini membuat semangat untuk terus memproduksi.
"Kalau diolah menjadi bio gas itu kita perlu perawatan, baik dari pipa hingga penyesuaian masyarakat terhadap aroma bio gas yang dihasilkan," ucapnya.
Proses pembuatan pupuk dari kotoran sapi meliputi, sekam padi, tatal atau serbuk kayu dan tanah yang dicampur menjadi satu. Usai dicampur dilakukan fermentasi selama 2 pekan.
Tujuan dari proses itu ialah, untuk menghasilkan pupuk yang berkualitas dan mampu menggemukan atau menyuburkan suatu tanaman. Selama ini telah dipastikan tidak ada konsumen, yang memberikan komplain atau kritik terhadap penggunaan pupuk ini.
"Dalam proses ini diperlukan waktu satu bulan, tapi pekerjaannya dilakukan secara bertahap," ujarnya.
Jika telah menjadi produk pupuk, maka produk tersebut siap dipasarkan. Sementara pemasaran pupuk kandang dari kotoran sapi ini, telah meliputi para petani lokal dan perusahaan yang bergerak pada sektor perkebunan.
"Pupuk yang dijual kepada perusahaan per kilogramnya hanya 2 ribu rupiah. Terkadang permintaan mereka bisa mencapai 70 ton dan untuk masyarakat setempat harga pupuk hanya 15 ribu per karung," jelasnya.
Untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi, pihaknya juga mencari kotoran sapi di kandang atau peternakan sekitar Loa Kulu. Jika tak seperti itu maka kebutuhan pupuk tak akan tercukupi.
Dalam memproduksi pupuk, dirinya mengaku yang menjadi kendala ialah pada kemasan. Sementara kemasan yang digunakan hanya karung biasa atau bekas. Jika produk pupuk itu memiliki kemasan yang baik, artinya produk ini bisa bersaing dengan pupuk luar daerah.
"Kita terkendala dengan kemasan. Kita berharap pemerintah daerah untuk dapat mendukung, terhadap produksi pupuk ini. Selama ini dilakukan secara mandiri," pungkasnya. (ary)