
Seraung, topi tradisional Dayak yang tetap eksis dan tak jarang dijadikan buah tangan ketika berkunjung dari bumi Kalimantan.
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Seraung adalahh topi tradisional khas suku Dayak yang berasal dari Kalimantan, topi ini dulu digunakan sebagai pelindung dari panas matahari saat bekerja di ladang maupun dihutan, sekarang seraung bukan jadi pelindung kepala, tapi juga menjadi kerajinan tangan yang nilainya budayanya tinggi dan banyak dicari sebagai oleh oleh dan hiasan rumah.
Salah satu pengrajin yang msih aktif dalam melestarikan seraung ialah Yohana, Yohana memiliki toko bernama Pondok Seraung yang terletak di Jalan Patimura Gunung Pendidik No 1, Tenggarong.
Selain seraung, ditempatnya memiliki berbagai jenis keranjinann khas Kutai seperti tas,kalung, gelang, songkok dan berbagai aksesoris lainnya yang terbuat dari manik manik.
"Kalau disini, yang paling banyak diminati ya seraung, songkok,tas manik, tapi kami juga menjual berbagai aksesoris kecil yang terbuat dari manik manik, " ujar Yohana pada Kutairaya.com,Jumat (30/5/2025).
Berbagai jenis Aksesoris di Pondok Seraung adalah hasiil karya tangan Yohana sendiri, bahkan seraung karyanya sudah dipesan untuk dikirim ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia memulai usahanya sejak tahun 2016, tapi baru membuka toko pada tahun 2023 setelah mendapat bantuan tempat yang diberikan oleh Pemerintah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop) Kukar
"Kami mulai usahanya dari tahun 2016, tapi terhenti waktu di Pulau Kumala karna sepi pembeli, setelah itu pemerintah memberikan tempat atau kios di Jalan Pattimura pada tahun 2023."ungkapnya.
Ia mengatakan, proses pembuatan satu kerajinan seraung dapat memakan waktu hingga dua minggu jika dihiasi dengan manik manik secara penuhh,
"Kalau diperkirakan, dua minggu dari pembuatan topi, membuat manik manik hingga penyatuan manik manik ke topinya, mungkin terlihat lama tetapi yang saya utamakan adalah kualitas, " pungkasnya.
Harga produk di Pondok Seraung cukup bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu untuk aksesoris kecil hingga Rp 250 ribu untuk seraung, bahkan terdapat mandau hias dimulai dari harga Rp 2,5 juta.
"Di sini harga nya beragam ya dari Rp 10 ribu untuk aksesoris kecil seperti gelang,kalung sampai Rp 250 ribu untuk seraung, disini juga terdapat mandau mulai dari Rp 2,5 juta. " jelas Yohana.
Ia mengaku penghasilan nya menurun dari tahun sebelumnya, kini ia hanya berjualan lewat sosial media seperti Instagram viorayohana,Facebook Yohana Viora ,Whatssapp 0822 5145 5090.
"Semenjak jarang adanya pameran pameran, untuk penghasilan belakangan ini agak kurang, tapi minimalnya satu bulan itu bisa sampai 6 juta, " katanya.
Lebih lanjut, ia mengaku telah dibantu oleh pemerintah melalui Disperindagkop dari berbagai fasilitas seperti kios, tempat pameran.
"Kita sudah banyak dibantu berbagai fasilitas oleh pemerintah seperti Kios di Jalan Pattimura hingga kios di IKN, kami juga difasilitasi tempat pameran pameran, " ujarnya.
Selain fasilitas tempat, barang hasil karyanya juga dimasukkan di E katalog, "Kemudian barang barang kami juga dimasukkan di E Katalog, semisal Pemerintah memerlukan hasil karya kami, mereka mengambil dari E Katalog, " ungkapnya.
Ia berharap generasi muda mau mengenal dan melestarikan karya budaya lokal. "Harapan saya, anak-anak muda bisa lebih peduli, ini ciri khas daerah kita, jangan sampai punah,harus tetap dilestarikan," katanya. (Achmad Syafiqu Nizar)