
(Komisioner KPU Kukar Muchammad Amin)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat peningkatan partisipasi pemilih dalam Pemilu 2024 yang mencapai 70,96%, naik signifikan dari 56,67% pada 2020. Menyikapi hal ini, KPU Kukar akan melakukan evaluasi dan perbaikan strategi sosialisasi guna menembus angka partisipasi pemilih nasional pada pemilu mendatang.
Komisioner KPU Kukar Muchammad Amin mengatakan bahwa strategi yang diterapkan pada 2024, seperti memaksimalkan peran Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dalam sosialisasi, terbukti efektif.
"Ke depan, kita ingin lebih maksimal lagi dalam menyentuh masyarakat di setiap wilayah. Kukar ini luas, jadi pendekatan langsung oleh PPK sangat penting agar sosialisasi bisa lebih merata," ujarnya, Rabu (29/1/2025).
Menurut Amin, peningkatan hampir 20% dalam tingkat partisipasi pemilih bukan hanya karena kerja KPU semata, tetapi juga didorong oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan jumlah kandidat dan kesadaran masyarakat.
Salah satu upaya KPU Kukar adalah dengan memastikan bahwa PPK memahami segmen pemilih di setiap kecamatan.
Misalnya, di satu kecamatan mungkin pemilih muda lebih sulit dijangkau, sementara di kecamatan lain, faktor utama yang menghambat partisipasi adalah pekerjaan masyarakat yang lebih memilih bekerja di ladang atau kebun daripada datang ke TPS.
KPU juga melakukan berbagai program sosialisasi, seperti:
Kegiatan jalan sehat di 20 kecamatan untuk menarik perhatian masyarakat,
pendekatan spesifik ke segmen pemilih, seperti pelajar SMA, komunitas pemuda, dan masyarakat umum, serta mendorong pemilih muda untuk lebih aktif melalui pendidikan politik sejak dini.
"Kami mencoba mengubah pola pendekatan ke pemilih muda, dimulai dari pelajar SMA. Jika mereka terbiasa datang ke TPS sejak pertama kali memilih, maka ke depannya hal ini tidak lagi menjadi sesuatu yang asing atau berat," kata Amin.
Salah satu kendala yang dihadapi KPU dalam meningkatkan partisipasi pemilih adalah perubahan pola pikir generasi muda. Menurut Amin, pemilih muda yang lebih fokus pada aspek finansial seringkali lebih memilih bekerja daripada menggunakan hak pilihnya.
"Banyak anak muda setelah lulus SMA lebih memilih bekerja daripada melanjutkan pendidikan. Ini menjadi tantangan bagi kami karena mereka merasa waktu untuk memilih lebih baik digunakan untuk bekerja," ungkapnya.
Selain itu, faktor cuaca dan pekerjaan juga mempengaruhi partisipasi pemilih di Kukar. "Banyak masyarakat berpikir lebih baik pergi ke kebun atau ladang jika cuaca cerah daripada datang ke TPS," tambahnya.
KPU Kukar juga mencatat bahwa meningkatnya jumlah pemilih muda atau bonus demografi kemungkinan menjadi salah satu faktor utama naiknya angka partisipasi.
Selain itu, meningkatnya jumlah gugatan dan proses hukum terkait pemilu juga menunjukkan kesadaran demokrasi yang lebih tinggi.
"Dulu kita khawatir kenapa masyarakat tidak pernah mengajukan protes atau gugatan. Sekarang mereka mulai memahami hak-haknya dalam proses demokrasi, dan itu adalah perkembangan yang positif," jelas Amin.
KPU Kukar menegaskan bahwa dalam menghadapi Pilkada 2024 dan Pemilu 2029, pihaknya akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan strategi agar partisipasi pemilih semakin meningkat. Media juga berperan penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar semakin sadar akan pentingnya demokrasi.
"Partisipasi masyarakat dalam demokrasi bukan hanya di TPS, tapi juga dalam memahami hak-haknya. Dan ini harus terus kita dorong," tutupnya. (Dri/Adv)