
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, salah satu usaha jasa travel di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, mengeluhkan sepinya penumpang. Kondisi ini diduga terjadi karena banyak masyarakat yang beralih menggunakan moda transportasi lain, seperti speedboat.
Taufik, seorang sopir travel yang telah menjalani profesi ini selama belasan tahun, menyebutkan bahwa situasi seperti ini jarang terjadi pada momen Nataru.
"Biasanya, menjelang atau saat Nataru penumpang cukup ramai, tapi sekarang terasa lebih sepi," ungkapnya, Sabtu (21/12/24).
Travel di Bukit Biru ini melayani berbagai rute, seperti Samarinda-Melak hingga Bontang-Balikpapan. Taufik menjelaskan bahwa ia bekerja bersama 14 sopir lainnya untuk melayani penumpang antar kabupaten/kota.
"Meski hasilnya tidak menentu, alhamdulillah ada saja penumpang. Saat sepi, bisa 2-3 penumpang, sedangkan kalau ramai, bisa sampai 6 penumpang dalam sekali jalan," jelas Taufik.
Harga tiket bervariasi tergantung jarak, seperti rute Tenggarong ke Kutai Barat yang dipatok Rp 400.000 per orang. Namun, pendapatan bersih setiap bulan berkisar Rp 7-8 juta, belum termasuk biaya bahan bakar dan makan.
"Kondisi ini sangat dirasakan oleh kami yang mengandalkan jasa mobilisasi barang dan penumpang untuk penghasilan. Tapi harus tetap disyukuri," tambahnya.
Taufik juga mengungkapkan bahwa modernisasi dan kemajuan teknologi menjadi tantangan berat bagi usaha jasa travel tradisional seperti yang dijalankannya.
"Kami berharap para pelaku usaha jasa travel dan badan usaha terkait bisa bertahan dalam situasi sulit seperti ini," harap Taufik.
Mereka berharap kondisi ini segera membaik, terutama di momen-momen liburan besar seperti Nataru. (dri)