• Jum'at, 24 Mei 2024
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Prosesi Ngulur Naga dan Belimbur yang dilaksanakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada Minggu (1/10/23) di Ketaton Museum Mulawarman menjadi penutup pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua 2023. Kegiatan tersebut disambut suka cita oleh masyarakat.

Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Kukar yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Akhmad Thaufik Hidayat, Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Arifin, unsur Forkopimda dan undangan lainnya.

Bupati Kukar Edi Damansyah dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten I Akhmad Thaufik Hidayat mengatakan bahwa prosesi Mengulur Naga dan Belimbur ini menandai puncak ritual Erau Adat Pelas Benua tahun 2023,

Dimana replika Naga Laki dan Naga Bini akan diarak dari Tenggarong menuju Kutai Lama di Kecamatan Anggana menggunakan kapal untuk melarung tubuhnya di Sungai Mahakam. Sementara untuk kepala dan ekornya akan dibawa dan disemayamkan kembali di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura di Tenggarong.

"Harapan kami, demi menjunjung adat lawas suku Kutai sebagaimana yang diadatkan, seluruh masyarakat yang mengikuti rangkaian akhir ritual Erau Adat Pelas Benua bersama-sama menjaga ketertiban agar ritual akhir ini dapat terlaksana dengan lancar dan sukses."" ungkapnya.

Prosesi Mengulur Naga dalam kepercayaan adat Kutai secara turun temurun adalah ritual komunikasi antara alam dunia dengan alam gaib yang bersifat sakral. Kemudian saat bersamaan Sultan Kutai melaksanakan ritual Beumban, Begorok, dan Rangga Titi di Tenggarong. Ritual ini wajib dilakukan Sultan Kutai untuk mendahului ritual Belimbur.

"Adapun ritual Belimbur dilakukan setelah Air Tuli (air suci dari Kutai Lama) dibawa ke Tenggarong bersama kepala dan ekor Naga Laki dan Naga Bini. Ritual Belimbur ini dimaksudkan untuk menyucikan diri Sultan Kutai beserta kerabat dan orang-orang terdekatnya dari pengaruh jahat."jelasnya.

Selanjutnya sultan memerciki tubuhnya dengan Air Tuli menggunakan Mayang Pinang serta memerciki empat penjuru mata angin. Ritual ini dilakukan pula secara bersama-sama oleh seluruh rakyat Kukar dan para pengunjung untuk mendapatkan penyucian diri dan perlindungan diri dari unsur-unsur jahat, baik yang berwujud maupun tak berwujud.

Thaufik mengungkapkan Erau sebagai even budaya dan festival rakyat adalah bukti kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki masyarakat Kukar khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Erau ini merepresentasikan identitas kearifan lokal masyarakat Kukar serta bagaimana antusiasme masyarakat dalam merawat nilai-nilai tradisi yang adiluhung.

"Pemkab Kukar berharap melalui even Erau ini akan memperkuat jati diri Urang Kutai di tengah komunitas global bangsa Indonesia dan dapat dinilai sebagai citra eksklusif bagi masyarakat Kaltim ketika ibukota negara (IKN) Nusantara tumbuh berkembang di wilayah Kaltim di masa yang akan datang."tutupnya. (*dri/adv)

Pasang Iklan
Top