
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan program Jambore Ekonomi Kreatif (Ekraf) sebagai upaya mendorong promosi dan pengembangan produk unggulan dari 20 kecamatan agar mampu menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional dan internasional.
Program tersebut dirancang melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), dengan menghimpun berbagai produk potensial dari masing-masing kecamatan untuk dikurasi dan dikembangkan secara bersama.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, menjelaskan program tersebut merupakan hasil Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) yang melibatkan Bappeda Provinsi Kalimantan Timur, Bappeda Kukar, Dispar Kukar, dan Dispar Provinsi Kaltim.
Menurutnya, kegiatan promosi produk ekonomi kreatif tersebut menjadi salah satu subkegiatan baru yang mendapat perhatian pemerintah, termasuk Kementerian Ekonomi Kreatif.
"Standar kegiatannya adalah mengumpulkan produk-produk kreatif dari 20 kecamatan. Produk yang potensial, berdasarkan data kami yang digabungkan dengan data OPD-OPD lain, akan dikumpulkan di satu tempat, yaitu Tenggarong, untuk dikurasi," ungkap Zikri Senin (2/11/2026).
Dalam proses kurasi, para pelaku ekonomi kreatif tidak hanya membawa produk untuk dinilai, tetapi juga mendapatkan workshop dan pelatihan. Materi yang diberikan mencakup kemampuan melakukan presentasi bisnis atau business pitching, teknik bercerita mengenai keunggulan produk (product storytelling), hingga strategi pemasaran.
Zikri mengatakan, produk yang masih sederhana tetap memiliki peluang untuk dikembangkan selama mempunyai potensi pasar, didukung ketersediaan bahan baku, serta memiliki pelaku usaha yang memahami proses produksi dan penjualannya.
Karena itu, pembinaan juga akan diarahkan pada pemahaman rantai pasok agar pelaku usaha dapat mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, produk dari berbagai kecamatan juga diharapkan saling terhubung. Misalnya, pelaku usaha keripik pisang dapat bekerja sama dengan daerah yang memiliki perkebunan pisang sebagai pemasok bahan baku.
Tidak hanya melibatkan OPD, Dispar Kukar juga akan membuka kolaborasi dengan forum PJSP untuk membantu kebutuhan pelaku usaha yang belum dapat difasilitasi pemerintah daerah, seperti pengujian laboratorium, sertifikasi produk, hingga akses jaringan pemasaran dan ekspor.
"Intinya, mereka harus bisa mengerti sistem dan rantai pasok produk mereka. Kita juga ingin menghubungkan mereka dengan jaringan yang lebih luas agar produk yang dihasilkan bisa berkembang," jelasnya.
Program Jambore Ekraf tersebut selanjutnya akan memasuki tahap kedua pada triwulan IV. Produk-produk yang telah melalui proses kurasi akan dibawa ke kegiatan business matching atau penjajakan kerja sama bisnis dengan skema antarpelaku usaha (business to business/B2B).
Dalam tahap ini, Dispar Kukar menargetkan produk unggulan daerah dapat bertemu dengan akademisi, praktisi, serta pelaku usaha yang telah berhasil mengembangkan produknya hingga menembus pasar lebih luas.
Zikri menyebutkan, kegiatan tersebut juga akan disinergikan dengan program Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Perdagangan, termasuk peluang mengikuti jejaring perdagangan seperti Trade Expo Indonesia (TEI).
Ia mencontohkan adanya kerja sama pengiriman produk ke Afrika melalui nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah ditandatangani Bupati Kukar.
Kolaborasi lintas sektor juga diperlukan, mulai dari Disperindag terkait perizinan dan perdagangan, Distransnaker terkait tenaga kerja, hingga instansi lainnya yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan usaha.
Melalui Jambore Ekraf, Dispar Kukar berharap produk-produk unggulan dari 20 kecamatan tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga memiliki daya saing dan peluang menembus pasar nasional hingga internasional. (Adv/Dri)