
Objek Wisata Waduk Panji Sukarame, Tenggarong.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil menjadi salah satu tantangan bagi sektor pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dampaknya, tren kunjungan wisata mengalami perlambatan meskipun promosi destinasi terus dilakukan.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Ivan Akhmad, mengungkapkan bahwa kemampuan ekonomi masyarakat memiliki pengaruh terhadap keputusan untuk melakukan perjalanan wisata. Ketika kondisi keuangan terbatas, masyarakat cenderung mengutamakan kebutuhan pokok dibandingkan pengeluaran untuk rekreasi.
Menurutnya, kegiatan wisata umumnya dilakukan ketika seseorang memiliki anggaran lebih untuk kebutuhan hiburan. Karena itu, kondisi ekonomi yang kurang mendukung turut memengaruhi minat masyarakat untuk berkunjung ke sejumlah destinasi.
“Kalau kondisi keuangan masyarakat sedang tidak baik, mereka tentu akan lebih memilih berdiam di rumah. Sebab, untuk berwisata biasanya membutuhkan anggaran lebih yang dialokasikan untuk hiburan,” jelasnya Senin (2/11/2026).
Meski menghadapi tantangan tersebut, Dispar Kukar tidak mengurangi upaya promosi. Pihaknya tetap berupaya menjaga eksistensi destinasi wisata melalui pemasaran yang lebih intensif, khususnya dengan memanfaatkan media sosial.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah melibatkan pelajar yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di lingkungan Dispar Kukar. Mereka diberikan kesempatan sekaligus tugas untuk membuat konten kreatif mengenai objek wisata yang dikelola pemerintah daerah.
Konten tersebut kemudian dipublikasikan melalui akun media sosial masing-masing pelajar dan kanal resmi Dispar Kukar. Strategi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan informasi dengan memanfaatkan jejaring digital yang dimiliki para pelajar.
Ivan menjelaskan, promosi melalui media sosial dinilai lebih efektif dan cepat menjangkau masyarakat dibandingkan metode konvensional seperti penyebaran brosur maupun pemasangan spanduk.
Selain promosi digital, Dispar Kukar juga mengandalkan laporan petugas di lapangan untuk memantau perkembangan kunjungan wisata. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan destinasi yang membutuhkan dukungan promosi lebih besar.
Jika ditemukan penurunan kunjungan, Dispar akan meningkatkan publikasi agar objek wisata tersebut kembali mendapatkan perhatian masyarakat.
“Kami tetap konsisten melakukan promosi. Petugas di lapangan juga rutin menyampaikan laporan kunjungan. Kalau ada penurunan, tentu akan kami bantu dengan promosi yang lebih gencar,” tutupnya. (Adv/Dri)