
Direktur RSIA Sayang Ibu, dr Erica Handritha, M.A.P.(Dok. dr Erica)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Tingginya tuntutan pelayanan di rumah sakit membuat tenaga kesehatan rentan mengalami stres hingga kelelahan emosional atau burnout. Menyikapi hal tersebut, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Sayang Ibu menggelar webinar kesehatan mental untuk meningkatkan kesadaran pegawai akan pentingnya menjaga kesejahteraan psikologis di lingkungan kerja.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026) ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia dan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-62. Webinar tersebut mengusung tema “Merawat Diri Sebelum Merawat Orang Lain: Strategi Cerdas Mengatasi Burnout di Lingkungan Rumah Sakit”.
Direktur RSIA Sayang Ibu, dr Erica Handritha, M.A.P., mengatakan kesehatan mental menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan oleh tenaga medis maupun pegawai nonmedis. Sebab, kesibukan dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada pasien kerap membuat mereka mengesampingkan kebutuhan diri sendiri.
Menurutnya, menjaga diri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan langkah penting agar setiap pegawai dapat menjalankan tugas secara optimal dan tetap memberikan pelayanan dengan empati.
“Sebelum kita merawat orang lain dengan baik, kita harus memastikan diri kita sendiri dalam kondisi yang sehat, baik secara fisik maupun mental. Burnout atau kelelahan emosional adalah nyata, dan kita perlu strategi cerdas untuk mengatasinya,” ujar Erica.
Dalam kegiatan tersebut, Umi Maisyarah, S.K.M., turut memaparkan grafik hasil survei burnout pada pegawai di lingkungan RSIA Sayang Ibu. Paparan ini menjadi bagian dari pembahasan mengenai kondisi kelelahan kerja yang perlu mendapat perhatian di lingkungan rumah sakit.
Untuk memperdalam pemahaman peserta, RSIA Sayang Ibu menghadirkan Ermy Herawaty, M.Psi., Asesor Sumber Daya Manusia Aparatur Ahli Muda pada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Balikpapan, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Ermy membahas cara mengenali tanda-tanda awal stres kerja, mengelola tekanan emosional, serta membangun lingkungan kerja yang suportif. Peserta juga diajak memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance, untuk membantu mencegah kelelahan berkepanjangan.
Webinar berlangsung interaktif dengan melibatkan dokter, perawat, bidan, hingga staf administrasi RSIA Sayang Ibu. Sesi diskusi dan tanya jawab dimanfaatkan peserta, untuk berbagi pengalaman serta membahas cara menghadapi tekanan di tengah padatnya jadwal dan tanggung jawab pekerjaan.
Melalui kegiatan ini, RSIA Sayang Ibu berharap pegawai tidak hanya memiliki kompetensi profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga mampu menjaga kesehatan mental dan mengenali kapan membutuhkan dukungan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya mendorong terciptanya lingkungan kerja yang sehat, harmonis, dan saling mendukung. Dengan demikian, perhatian terhadap kesejahteraan pegawai diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kualitas pelayanan kepada pasien. (Las)