
Agro Ekowisata Desa Buana Jaya.(Dok.Pokdarwis Buana Jaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus berupaya mengembangkan potensi wisata berbasis alam, pertanian, edukasi, dan budaya. Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Buana Jaya Agro Ekowisata, beragam potensi lokal disiapkan untuk menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ketua Pokdarwis Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, mengatakan kelompok tersebut dibentuk pada 2023 dengan jumlah awal 26 anggota. Namun, saat ini diperkirakan hanya 10 hingga 15 orang yang masih aktif terlibat dalam kegiatan pengembangan wisata.
“Awalnya anggota kami ada 26 orang. Sekarang diperkirakan tersisa sekitar 10 sampai 15 orang karena beberapa sudah mendapatkan pekerjaan di luar,” ujar Eko Kamis (22/10/2026).
Meski menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, Pokdarwis tetap berupaya mengoptimalkan potensi wisata yang tersedia. Salah satu daya tarik yang pernah dikembangkan adalah wisata trekking menuju kawasan hutan dan air terjun.
Tidak hanya menawarkan keindahan alam, Desa Buana Jaya juga memiliki potensi agrowisata yang dapat dikembangkan melalui kunjungan ke kebun alpukat, area pertanian, tempat budidaya jamur, hingga lokasi pembuatan jamu herbal.
Berbagai potensi tersebut dinilai dapat menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati suasana alam, tetapi juga mengenal aktivitas pertanian serta produk yang dihasilkan masyarakat setempat.
“Potensi di Buana Jaya cukup beragam. Kami ingin wisata alam, pertanian, edukasi, dan usaha masyarakat bisa saling mendukung sehingga pengunjung punya lebih banyak hal yang dapat dikenal saat datang ke desa,” katanya.
Dalam pengelolaannya, kawasan ekowisata berada di bawah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang bernaung dalam Lembaga Hutan Desa. Sementara itu, pengembangan agrowisata dilakukan melalui kerja sama dengan pemilik kebun dan pelaku usaha lokal.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pengelolaan destinasi secara bertahap dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata desa.
Selain wisata alam dan pertanian, Pokdarwis Buana Jaya juga pernah menggelar kegiatan Ngamen Milenial pada 2023, 2024, dan 2025. Kegiatan ini memadukan pertunjukan seni dan budaya dengan bazar UMKM untuk memberikan ruang promosi bagi produk-produk lokal.
Namun, kegiatan tersebut belum dapat dilaksanakan pada 2026 karena keterbatasan anggaran desa. Meski demikian, pengalaman penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya diharapkan dapat menjadi modal untuk kembali menghadirkan kegiatan serupa apabila dukungan pendanaan tersedia.
Saat ini, kawasan ekowisata Buana Jaya masih dalam tahap pembenahan, khususnya di area air terjun. Karena itu, kawasan tersebut belum dibuka secara rutin. Pokdarwis menargetkan destinasi ini dapat kembali dibuka pada 2027 setelah persiapan dan pembenahan yang diperlukan selesai dilakukan.
Ke depan, pengembangan destinasi akan diarahkan pada perpaduan ekowisata dan agrowisata, termasuk pemanfaatan kebun milik masyarakat serta pengenalan produk UMKM. Konsep tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan aktivitas wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Dharmawan, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan destinasi wisata di daerah, termasuk potensi wisata yang dikelola masyarakat desa.
Dukungan terhadap pengembangan destinasi lokal dinilai penting untuk mendorong pemanfaatan potensi alam dan budaya secara berkelanjutan. Selain memperkaya pilihan destinasi wisata di Kukar, pengembangan tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata.
Melalui pengembangan ekowisata, agrowisata, edukasi, serta seni dan budaya, Desa Buana Jaya diharapkan mampu memperkuat daya tariknya sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal. (Adv/Dri)