• Sabtu, 24 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi Muhammad Ishak.(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Ancaman penyakit kecacingan pada anak menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Penyakit yang kerap dianggap ringan tersebut ternyata dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kekurangan nutrisi, anemia, hingga menghambat tumbuh kembang anak.

Untuk menekan risiko tersebut, Dinkes Kaltim terus memperkuat langkah pencegahan melalui pemberian obat cacing secara berkala sesuai ketentuan program kesehatan, peningkatan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pengawasan kebersihan lingkungan, khususnya di sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi Muhammad Ishak, mengatakan anak usia sekolah menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian pada upaya pencegahan kecacingan. Meski demikian, langkah perlindungan juga harus diberikan kepada anak-anak dari kelompok usia lainnya, termasuk balita.

Menurutnya, infeksi cacing yang tidak ditangani dengan baik berpotensi mengganggu penyerapan zat gizi dalam tubuh. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko anemia dan berdampak pada pertumbuhan serta kemampuan anak mengikuti kegiatan pembelajaran.

"Perhatian utama kita memang pada anak usia sekolah, tetapi pencegahan juga harus dilakukan terhadap anak-anak secara umum. Jika kasus kecacingan masih banyak ditemukan, risiko anemia tentu semakin meningkat. Kondisi ini juga bisa berkontribusi terhadap stunting dan memengaruhi prestasi belajar anak," ujarnya, Sabtu (24/10/2026).

Ia menjelaskan, persoalan kecacingan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan individu, tetapi juga mencerminkan pentingnya kebersihan lingkungan dan penerapan pola hidup sehat dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, upaya pengendalian penyakit tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pemberian obat, melainkan harus dibarengi dengan perubahan kebiasaan sehari-hari.

Ia menilai, masih tingginya indikator kecacingan di suatu wilayah perlu menjadi perhatian berbagai pihak untuk mengevaluasi kondisi sanitasi dan perilaku masyarakat.

"Apabila angka kecacingan masih tinggi, tentu ini harus menjadi perhatian bersama. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi kebersihan lingkungan serta kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya menjalankan pola hidup bersih dan sehat," jelasnya.

Dirinya menekankan pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini sebagai langkah perlindungan terhadap berbagai penyakit infeksi, termasuk kecacingan.

Sejumlah kebiasaan sederhana dapat diterapkan, seperti mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan tubuh dan kuku, serta mengenakan alas kaki ketika beraktivitas di luar rumah.

Langkah tersebut dinilai penting agar mengurangi risiko anak terpapar telur atau larva cacing yang dapat ditemukan di lingkungan yang terkontaminasi.

Selain peran keluarga, lingkungan sekolah juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Sekolah diharapkan dapat meningkatkan edukasi kesehatan kepada peserta didik sekaligus memastikan tersedianya sarana sanitasi yang layak dan lingkungan belajar yang bersih.

Sementara itu, fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas memiliki peran dalam pelaksanaan program pemberian obat cacing, penyuluhan kesehatan, hingga pemantauan kondisi kesehatan anak.

Dinkes Kaltim juga mendorong keterlibatan berbagai instansi terkait, khususnya yang membidangi sanitasi dan lingkungan, agar upaya pencegahan kecacingan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dan orang tua, diharapkan risiko penularan kecacingan di Kalimantan Timur dapat terus ditekan.

Dengan demikian, anak-anak dapat tumbuh lebih sehat, memperoleh asupan gizi secara optimal, serta menjalani aktivitas pendidikan tanpa terganggu oleh penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan kebiasaan hidup bersih dan sehat. (*Yud)



Pasang Iklan
Top