
Ketua IDI Cabang Balikpapan, dr. Andi Sri Juliarty.(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Balikpapan mendorong semakin banyak putra-putri daerah menempuh pendidikan kedokteran, agar kebutuhan tenaga medis di Kota Balikpapan dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Ketua IDI Cabang Balikpapan, dr. Andi Sri Juliarty, mengatakan minat generasi muda untuk menjadi dokter perlu ditumbuhkan sejak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Menurutnya, keberadaan fakultas kedokteran di Kalimantan Timur membuka peluang lebih besar bagi anak-anak daerah, untuk mengenyam pendidikan kedokteran tanpa harus pergi jauh ke luar pulau.
“Cita-cita kami, semakin banyak putra-putri asli Balikpapan yang menjadi dokter. Karena selama ini masih banyak dokter yang berasal dari luar daerah. Ketika memasuki masa pensiun, mereka biasanya kembali ke daerah asalnya,” ujarnya, pada saat sosialisasi pencegahan TBC dan pembentukan Kelurahan Siaga TBC yang bekerja sama dengan PKK Kota Balikpapan, di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, Sabtu (17/10/2026).
Andi Sri Juliarty kerap disapa dr. Dio menjelaskan, saat ini calon mahasiswa di Kalimantan Timur memiliki sejumlah pilihan untuk menempuh pendidikan kedokteran, di antaranya Universitas Mulawarman dan Universitas Muhammadiyah di Samarinda, serta Universitas Balikpapan.
Kehadiran institusi pendidikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan kedokteran, sekaligus mendorong lahirnya tenaga medis yang memiliki keterikatan dengan daerah asalnya.
Ia pun mengajak para orang tua, camat, lurah, serta kader PKK untuk ikut memberikan motivasi kepada anak-anak agar berani bercita-cita menjadi dokter.
Menurutnya, peningkatan jumlah dokter yang berasal dari Balikpapan menjadi salah satu upaya jangka panjang untuk menjaga ketersediaan tenaga medis, termasuk ketika dokter yang bertugas dari luar daerah memasuki masa pensiun.
Selain mendorong minat generasi muda, IDI Balikpapan mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Balikpapan yang mulai memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis melalui APBD pada 2026.
dr. Dio mengungkapkan, salah satu penerima program tersebut adalah dr. Fikri, dokter yang bertugas di Puskesmas Gunung Sari Ilir. Ia memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan spesialis anestesi.
Program ini dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas tenaga medis, sekaligus memperkuat ketersediaan dokter spesialis yang dibutuhkan fasilitas pelayanan kesehatan di Balikpapan.
“Alhamdulillah, tahun ini sudah ada satu dokter kita yang mendapatkan beasiswa penuh dari Bapak Wali Kota untuk melanjutkan pendidikan spesialis anestesi,” ungkapnya.
Ia berharap dokter yang memperoleh dukungan pembiayaan pendidikan tersebut dapat kembali mengabdi di Balikpapan setelah menyelesaikan studinya.
Menurut dr. Dio, dukungan pembiayaan pendidikan dari pemerintah daerah menjadi salah satu instrumen penting, untuk menyiapkan tenaga medis sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Ia juga menyinggung program pendidikan gratis dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi.
Melalui peningkatan minat calon dokter dan dukungan pendidikan spesialis, IDI Balikpapan berharap semakin banyak tenaga medis lokal yang dapat memperkuat pelayanan kesehatan di daerah, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap layanan dokter dapat dipenuhi secara berkelanjutan. (Las)