
Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) melalui pembentukan wadah pemasaran produk lokal di sejumlah wilayah. Salah satunya melalui replikasi Simpang Odah Etam yang diarahkan untuk menjangkau kawasan tengah, ulu, dan pesisir Kukar.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, menjelaskan, replikasi tersebut dirancang untuk memperluas ruang promosi dan pemasaran produk kreatif masyarakat. Kota Bangun dan Sangasanga dipilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki potensi serta karakteristik wilayah yang berbeda.
Menurutnya, Sangasanga dipertimbangkan karena memiliki nilai historis, termasuk keberadaan patung Presiden pertama RI, Soekarno. Pengembangan di wilayah tersebut juga direncanakan melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk kelompok terkait di tingkat lokal.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan kegiatan saat ini baru berjalan di Kota Bangun. Sementara itu, rencana pengembangan di Sangasanga belum dapat direalisasikan.
“Anggaran kami mengalami penyesuaian, sehingga kegiatan yang berjalan baru di Kota Bangun. Untuk Sangasanga, sementara ini belum terlaksana,” jelas Zikri Rabu (14/10/2026).
Ia menyebutkan, wadah ekonomi kreatif di Kota Bangun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kegiatan tersebut melibatkan pelaku usaha dari 11 desa yang memiliki perwakilan dalam kepengurusan.
Pembentukannya dilakukan melalui rapat yang difasilitasi pihak kecamatan dengan melibatkan unsur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Dispar Kukar juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pelaku usaha sebelum kegiatan pemasaran dijalankan. Sebelum wadah tersebut beroperasi, para pelaku UMKM telah mengikuti dua kali pelatihan, yakni mengenai branding dan manajemen keuangan.
Pendampingan turut dilakukan dengan melibatkan pihak yang memiliki keahlian sesuai bidangnya, sehingga pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas produk dan pengelolaan bisnis.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan di Kota Bangun melibatkan sekitar 25 tenant yang menawarkan beragam produk. Selain produk ekonomi kreatif, kegiatan tersebut juga menggandeng kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk memasarkan produk unggulan setempat.
Zikri mengungkapkan, perputaran uang dalam kegiatan tersebut masih berada di bawah Rp30 juta per malam. Produk makanan dan jajanan lokal yang dapat langsung dinikmati pengunjung cenderung lebih diminati dibandingkan produk kemasan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan produk dengan karakteristik dan kebiasaan konsumen di masing-masing daerah.
Ia menegaskan, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan budaya dan potensi lokal. Karena itu, Dispar Kukar berupaya membangun kolaborasi serta pendampingan berkelanjutan agar wadah yang terbentuk tidak sekadar menjadi tempat berjualan, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan usaha masyarakat.
Sementara itu, pengembangan di Sangasanga masih menunggu realisasi program dan penyesuaian anggaran. Dispar Kukar berharap kolaborasi antarpelaku ekonomi kreatif dapat terus diperkuat untuk memperluas pemasaran produk lokal di berbagai kecamatan. (Adv/Dri)