• Sabtu, 10 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara



Kabid Pemasaran Dispar Kukar Awang Ivan Akhmad.(Dok. Andri/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Film horor lokal produksi komunitas di Kutai Kartanegara (Kukar) berjudul “Tuana Tuha” ditargetkan tayang di bioskop pada 2026. Saat ini, proses produksi telah memasuki tahap finalisasi, termasuk penyempurnaan musik latar (background music) dan efek visual berbasis computer-generated imagery (CGI).

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Ivan Akhmad, mengatakan film tersebut sebelumnya telah diperkenalkan secara terbatas pada tahun lalu. Peluncuran secara umum direncanakan setelah seluruh proses penyempurnaan dan koordinasi dengan pihak terkait selesai.

“Insyaallah tahun ini mereka sudah memfinalisasi pengisian musik latar dan CGI. Mereka juga telah berkoordinasi dengan pihak bioskop, sehingga mudah-mudahan filmnya bisa ditayangkan tahun ini,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).

Ivan menjelaskan, proses penyelesaian film tersebut kini berfokus pada penyempurnaan kualitas produksi sebelum ditayangkan kepada masyarakat. Selain aspek teknis, tim produksi juga perlu memastikan seluruh persyaratan administrasi dan hak cipta telah terpenuhi agar penayangan film dapat berjalan sesuai ketentuan.

Menurutnya, hasil produksi film tersebut telah dihibahkan kepada komunitas pada tahun lalu. Langkah ini dilakukan agar komunitas dapat melanjutkan pengelolaan, pengembangan, hingga mengupayakan komersialisasi film secara mandiri, termasuk melalui penayangan di bioskop.

“Administrasi penyerahan hasil produksi sudah kami selesaikan tahun lalu. Sekarang tinggal finalisasi, dan mudah-mudahan tahun ini bisa ditayangkan,” jelasnya.

Kehadiran film “Tuana Tuha” juga menjadi salah satu upaya mendorong perkembangan ekonomi kreatif di Kukar, khususnya subsektor perfilman. Produksi ini melibatkan talenta lokal, dengan seluruh pemeran yang diberdayakan berasal dari Kukar.

Keterlibatan sumber daya manusia daerah tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kemampuan di bidang seni peran dan produksi film. Selain menjadi sarana berekspresi, karya ini juga berpotensi memperkenalkan kreativitas anak daerah kepada khalayak yang lebih luas.

Sementara itu, klasifikasi usia penonton akan ditentukan melalui proses sensor sesuai ketentuan yang berlaku.

"Kami berharap film ini dapat menjadi pemantik bagi komunitas kreatif lainnya untuk terus menghasilkan karya berkualitas sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah," tutupnya. (Adv/Dri)



Pasang Iklan
Top