
IDI Cabang Balikpapan bekali pengurus vihara keterampilan BHD, pada hari Sabtu (10/10/2026).(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Pengurus vihara di Kota Balikpapan mulai dibekali keterampilan Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat medis di lingkungan masyarakat.
Pelatihan yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Balikpapan ini menjadi kegiatan edukasi kesehatan pertama yang dilaksanakan di lingkungan umat Buddha di Balikpapan.
Ketua Walubi Balikpapan, Chan Harianto, mengatakan pelatihan tersebut memberikan manfaat besar bagi para pengurus vihara yang selama ini belum pernah mendapatkan pembekalan khusus mengenai Bantuan Hidup Dasar.
“Selama ini vihara-vihara, terutama para pengurusnya, belum pernah mendapatkan pelatihan bantuan hidup dasar seperti ini. Karena itu, kami mengundang perwakilan pengurus vihara yang ada di Kota Balikpapan,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Chan, pengurus vihara memiliki peran penting dalam kehidupan komunitas sehingga pengetahuan mengenai pertolongan pertama dalam kondisi darurat dapat menjadi bekal yang berguna ketika terjadi situasi yang membutuhkan penanganan segera.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu kali pelatihan, tetapi berlanjut melalui kerja sama dengan IDI untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran kesehatan, khususnya di kalangan umat Buddha di Balikpapan.
Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin) Kaltimtara, dr. I Made Suanda Menara, SpAn, M.Biomed, selaku Dokter dalam Pelatihan BHD menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-76 IDI.
Dalam kegiatan ini, Perdatin Kaltimtara mendukung IDI memberikan edukasi sekaligus pelatihan keterampilan BHD kepada masyarakat agar mampu memberikan pertolongan awal ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis.
Menurutnya, pertolongan awal yang tepat dapat membantu mempertahankan peluang keselamatan pasien sambil menunggu kedatangan tenaga medis dengan kemampuan penanganan lanjutan.
“Yang kita lakukan adalah memberikan informasi secara medis mengenai Bantuan Hidup Dasar, kemudian melatih keterampilan peserta agar bisa melaksanakan BHD dengan cepat, tepat, dan cermat,” jelasnya.
Materi pelatihan mencakup pengenalan kondisi korban yang membutuhkan Resusitasi Jantung Paru (RJP), langkah awal merespons kejadian darurat, serta praktik melakukan pertolongan sesuai prosedur.
I Made menekankan, penolong harus terlebih dahulu memastikan keamanan diri, korban, dan lingkungan sebelum memberikan bantuan. Setelah itu, penolong perlu memeriksa respons korban dan segera meminta bantuan layanan darurat.
Apabila korban tidak merespons dan tidak menunjukkan tanda sirkulasi normal, tindakan RJP perlu dilakukan sesuai pelatihan dan panduan yang berlaku sembari bantuan medis diupayakan.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak bertindak terburu-buru tanpa memahami langkah pertolongan yang benar. Niat membantu harus disertai pengetahuan yang memadai agar tindakan yang diberikan tidak justru memperburuk kondisi korban.
I Made berharap pelatihan BHD dapat meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi kejadian seperti henti jantung atau kondisi darurat lain yang menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran.
Dalam situasi tersebut, waktu menjadi faktor penting. Pertolongan awal yang dilakukan dengan benar sambil menunggu tenaga medis dapat berperan besar dalam upaya menyelamatkan nyawa.
Melalui pelatihan ini, pengurus vihara diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga memahami keterampilan dasar yang dapat diterapkan sesuai kompetensi ketika menghadapi keadaan darurat. (Las)