
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, Rabu (7/10/2026).(Foto: Achmad Nizar/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat pemantauan titik panas atau hotspot di tengah kondisi kemarau.
Hasil pemantauan sementara menunjukkan jumlah hotspot mengalami penurunan dari Agustus ke September, meskipun begitu pemerintah tetap mewaspadai potensi kebakaran di sejumlah wilayah.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Aspianur Sandi mengatakan, pemantauan hotspot terus dilakukan dengan membandingkan data setiap bulan.
Saat ini BPBD masih melakukan finalisasi data September untuk memastikan perkembangan titik panas secara lebih akurat.
"Kalau antara Agustus sama September kita bandingkan, penurunan hotspot lumayan. Tapi data September masih kita finalisasi dulu," ujar Aspianur kepada KutaiRaya.com, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, penurunan hotspot menjadi perkembangan yang terus dipantau pemerintah.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat BPBD mengurangi kewaspadaan.
Sebab, kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang masih membuat sejumlah wilayah memiliki tingkat kemudahan terbakar yang tinggi.
Ia menyebutkan, rata-rata hari tanpa hujan di Kukar telah berlangsung lebih dari 60 hari.
Kondisi ini membuat lahan, khususnya kawasan yang memiliki gambut, lebih mudah terbakar.
Sehingga Pemkab Kukar melalui BPBD terus memantau perkembangan titik panas, sekaligus menggabungkannya dengan laporan kejadian dari lapangan.
Langkah ini dilakukan untuk membedakan titik panas yang hanya terdeteksi sebagai hotspot dengan titik yang benar-benar berkembang menjadi kebakaran atau firespot.
"Jadi jangan menyamakan hotspot dengan yang terjadi kebakaran," ujarnya.
BPBD juga terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mendapatkan gambaran mengenai perkembangan musim kemarau dan kondisi iklim.
Data tersebut menjadi salah satu bahan pemerintah dalam menentukan langkah antisipasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dari hasil pemantauan sementara, titik panas masih ditemukan di beberapa wilayah Kukar.
Namun, intensitasnya mulai lebih banyak terlihat di kawasan hulu, termasuk Muara Kaman, Muara Muntai dan Muara Wis.
Wilayah tersebut menjadi perhatian karena terdapat kawasan gambut yang cukup tebal.
Kondisi lahan yang kering akibat panjangnya hari tanpa hujan dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.
Ia menjelaskan, kondisi kering juga memiliki efek yang tidak selalu langsung terlihat pada bulan yang sama.
Kondisi tanpa hujan pada Agustus dapat berdampak terhadap potensi kebakaran pada September.
Begitu pula kondisi September yang kering dapat berpengaruh terhadap kejadian kebakaran pada Oktober.
Karena itu, pemerintah tidak hanya melihat jumlah hotspot pada satu waktu, tetapi juga memperhatikan pola dan perkembangan titik panas dari waktu ke waktu.
Pemkab Kukar memastikan pemantauan akan terus dilakukan bersama seluruh unsur terkait.
Data hotspot, laporan kejadian, kondisi cuaca dan informasi lapangan terus dikombinasikan sebagai dasar untuk menentukan penanganan.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap potensi karhutla dapat ditekan dan penanganan bisa dilakukan lebih cepat, apabila ditemukan titik yang berkembang menjadi firespot. (Adv/Zar)