• Kamis, 08 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Dispar Kaltim bersama para peserta workshop penulisan kreatif, Rabu (7/10/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Kekayaan pariwisata Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai tidak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi. Cerita tentang budaya, tradisi hingga kehidupan masyarakat lokal juga perlu dikemas secara menarik agar mampu menjadi magnet bagi wisatawan.

Upaya tersebut dilakukan Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur melalui Workshop Penulisan Kreatif yang digelar selama dua hari, 7-8 Oktober 2026, di Temindung Creative Hub, Jalan Pipit, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda.

Kegiatan yang dimulai Rabu (7/10/26) tersebut diikuti 30 peserta dari kalangan masyarakat umum, mahasiswa hingga pelajar di Kota Samarinda.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal mengatakan, Benua Etam memiliki kekayaan alam dan destinasi wisata yang beragam. Namun, di balik itu terdapat cerita, budaya, tradisi serta kreativitas masyarakat yang juga memiliki potensi besar untuk diperkenalkan kepada khalayak luas.

Menurutnya, setiap daerah di Kaltim memiliki kisah dan karakter tersendiri. Begitu pula setiap tradisi memiliki makna, sementara sebuah destinasi menyimpan pengalaman yang dapat dituangkan menjadi cerita.

“Kalimantan Timur bukan hanya memiliki kekayaan alam dan destinasi wisata yang luar biasa, tetapi juga cerita, budaya, tradisi dan kreativitas masyarakat yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki kisahnya sendiri, setiap tradisi memiliki makna, dan setiap destinasi memiliki pengalaman yang dapat diceritakan,” ujarnya.

Namun, potensi tersebut dinilai tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak mampu disampaikan kepada masyarakat melalui cara yang menarik. Karena itu, kemampuan penulisan kreatif atau creative writing menjadi salah satu keterampilan yang penting pada pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Ia menegaskan, penulisan kreatif bukan sekadar kemampuan menyusun rangkaian kata, melainkan bagaimana seseorang mampu mengubah gagasan menjadi cerita dan pengalaman menjadi sebuah narasi yang memiliki pesan kuat.

“Dalam konteks pariwisata dan ekonomi kreatif, kemampuan bercerita semakin penting. Kita tidak hanya ingin memperkenalkan sebuah tempat, tetapi juga membuat orang merasakan alasan mengapa tempat tersebut layak dikunjungi,” ungkapnya.

Menurutnya, wisatawan pada akhirnya tidak hanya membawa pulang dokumentasi berupa foto setelah mengunjungi sebuah destinasi. Pengalaman dan cerita selama perjalanan juga menjadi bagian penting yang akan mereka bawa dan bagikan kepada orang lain.

Hal tersebut membuat kemampuan storytelling memiliki peran dalam membangun citra sebuah destinasi sekaligus memperluas promosi pariwisata.

Melalui workshop tersebut, Dispar Kaltim ingin mendorong peserta lebih jeli menemukan berbagai cerita menarik yang selama ini belum banyak terangkat dari daerah.

Peserta diharapkan mampu menggali ide, membangun cerita dan karakter, menentukan sudut pandang hingga menghasilkan tulisan yang tidak hanya menarik dibaca, tetapi juga memiliki nilai dan pesan.

“Kami ingin peserta berani menuangkan gagasan dan mengangkat cerita-cerita menarik, bahkan cerita langka yang hanya ada di Kalimantan Timur,” jelasnya.

Ia juga meminta peserta tidak takut mencoba dan menghasilkan karya meskipun tulisan yang dibuat belum sempurna.

Menurutnya, kemampuan menulis membutuhkan proses panjang yang dibangun melalui kebiasaan, kemauan belajar serta keberanian memperbaiki karya.

“Penulis yang baik bukan mereka yang tidak pernah menghasilkan tulisan buruk, tetapi mereka yang terus menulis, terus belajar dan terus memperbaiki karyanya,” tuturnya.

Dirinya berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Ia juga berharap dari workshop tersebut lahir karya-karya yang mampu membawa cerita tentang Kaltim semakin dikenal masyarakat luas.

“Semoga kegiatan ini melahirkan karya kreatif yang mampu membawa cerita Kalimantan Timur semakin dikenal, semakin dicintai dan semakin menginspirasi,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Dahlia mengatakan, workshop dirancang agar meningkatkan kemampuan praktis peserta dalam menghasilkan tulisan yang kreatif, komunikatif dan menarik.

Peserta juga dibekali kemampuan menggali ide dari potensi lokal kemudian mengolahnya menjadi cerita yang mempunyai daya tarik.

“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kompetensi peserta dalam menulis secara kreatif dan komunikatif, termasuk bagaimana menggali potensi lokal kemudian mengemasnya menjadi cerita yang menarik,” kata Dahlia.

Selain teknik penulisan, penguatan keterampilan storytelling menjadi salah satu fokus pelatihan.

Kemampuan tersebut diharapkan dapat mendorong peserta menghasilkan karya yang memiliki karakter sekaligus mengangkat identitas dan keunikan daerah.

Terlebih, perkembangan media digital membuat pola promosi pariwisata terus berubah. Konten tulisan dituntut tidak hanya informatif, tetapi juga menarik perhatian dan mampu membangun kedekatan dengan pembaca.

“Kami berharap peserta nantinya mampu menyusun konten pariwisata dan ekonomi kreatif yang relevan dengan perkembangan media digital, sekaligus mengembangkan identitas dan keunikan daerah melalui tulisan,” tukasnya.

Workshop tersebut menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda, yakni penulis dan sastrawan Kalimantan Timur Inni Indarpuri, sejarawan publik sekaligus editor buku Muhammad Sarip, serta jurnalis dan pemilik Rumah Seni Nirmana sekaligus perwakilan Forum Ekonomi Kreatif Balikpapan, Sophie Razak.

Melalui kombinasi materi penulisan, sejarah hingga pengalaman jurnalistik tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan tulisan yang menarik, tetapi juga menjadikan cerita lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi pariwisata dan ekonomi kreatif Kaltim. (*Yud)



Pasang Iklan
Top