• Jum'at, 23 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara



Flayer Festival Pesta Laut Samboja.(Dok. Panitia Festival Pesta Laut Samboja/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong penguatan potensi budaya dan ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan Festival Pesisir Samboja 2026. Festival yang menjadi bagian dari agenda pariwisata daerah tersebut diarahkan untuk mengangkat kearifan lokal masyarakat pesisir dengan sentuhan konsep tempo dulu.

Ketua Panitia Festival Pesta Laut Samboja, Muhammad Saleh, mengatakan persiapan kegiatan terus dilakukan bersama masyarakat dan pemerintah kelurahan. Panitia dibentuk untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan arahan dan agenda pariwisata Kabupaten Kukar.

Menurutnya, Festival Pesisir Samboja tahun ini tidak hanya menghadirkan hiburan masyarakat, tetapi juga mengangkat cerita mengenai asal-usul tradisi Pesta Laut yang berkembang di tengah masyarakat pesisir Samboja Kuala.

“Tema tahun ini lebih kepada tempo dulu. Kami ingin menceritakan bagaimana awal mula Pesta Laut dan budaya yang dibangun masyarakat di lingkungan pesisir Samboja Kuala,” ujar Saleh Senin (5/10/2026).

Konsep tersebut nantinya diperkuat melalui pertunjukan tari kolosal yang menggambarkan sejarah dan kearifan lokal Pesta Laut. Rangkaian kegiatan juga akan dipadukan dengan penampilan seni, hiburan rakyat serta keterlibatan pelaku UMKM.

Festival dijadwalkan berlangsung selama empat hari, 15-18 Oktober 2026, dengan lokasi kegiatan di kawasan Pasar Kuala, RT 14, Samboja Kuala.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ritual adat Pesta Laut pada 15 Oktober, termasuk prosesi pelarungan yang menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat pesisir. Selanjutnya, pembukaan dan berbagai pertunjukan seni masyarakat dijadwalkan berlangsung pada 16 Oktober hingga penutupan.

Panitia juga melibatkan talenta lokal dari berbagai wilayah, termasuk Samboja, Muara Jawa dan Tenggarong. Penampil berasal dari berbagai kelompok seni, mulai dari penyanyi solo, band hingga grup tari dari tingkat SD, SMP, SMA dan paguyuban.

“Kami juga menyiapkan penampilan dari talenta lokal. Ada penyanyi, band dan grup tari yang sudah mulai berlatih untuk tampil selama rangkaian kegiatan,” katanya.

Dari sisi ekonomi kreatif, keterlibatan UMKM juga menjadi bagian penting dalam festival. Panitia telah melakukan pendataan dan koordinasi dengan pelaku UMKM dari 13 desa dan kelurahan di Kecamatan Samboja. Persiapannya disebut telah mencapai sekitar 90 persen.

Selain itu, kegiatan juga direncanakan menghadirkan penceramah dari Solo, Surakarta, untuk mengisi salah satu rangkaian acara.

Saleh berharap Festival Pesisir Samboja dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat. Tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, festival diharapkan mampu menggerakkan perekonomian lokal sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas seni dan budaya.

“Harapannya ada efek domino. Secara adat, Pesta Laut tetap kita budayakan. Dari sisi UMKM, perekonomian masyarakat juga terus berputar, sementara seni tari, band, penyanyi dan kreativitas anak-anak muda tetap kita dorong,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan koordinasi dengan pihak terkait di Samboja terus dilakukan untuk memastikan kesiapan Festival Pesisir.

“Festival Pesisir sendiri kami sedang berusaha berkoordinasi dengan teman-teman dari Samboja untuk pelaksanaannya. Kami sudah banyak rapat dan sering bertemu,” ujar Zikri.

Ia menyebut persiapan secara umum telah berjalan cukup matang. Saat ini, Dispar Kukar bersama pihak penyelenggara masih melakukan koordinasi terkait penetapan jadwal pelaksanaan.

Festival Pesisir diproyeksikan berlangsung pada Oktober 2026 setelah rangkaian Erau selesai. Penetapan tanggal pelaksanaan selanjutnya disesuaikan dengan hasil koordinasi bersama pihak penyelenggara.

“Persiapannya memang sudah matang, tinggal penjadwalan tanggalnya kapan,” katanya.

Zikri menambahkan, konsep tempo dulu yang diusung tahun ini menjadi bagian dari upaya menggali kembali identitas dan ciri khas masyarakat pesisir. Pendekatan tersebut sekaligus diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dengan mengangkat potensi lokal.

“Konsep tahun ini lebih ke konsep-konsep jadul. Kami berusaha mengangkat apa ciri khasnya di sana, bagaimana anak mudanya dan bagaimana mengembangkan pola pikir kreatifnya,” tuturnya.

Melalui Festival Pesisir, Dispar Kukar mendorong agar kekayaan budaya masyarakat pesisir tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga dikembangkan menjadi bagian dari potensi pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. (Adv/Dri)



Pasang Iklan
Top