• Minggu, 25 Oktober 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Kota Samarinda, Mohammad Wahiduddin, Kamis (1/10/2026).(Foto: Yudi/KutaiRaya.com)


SAMARINDA, (KutaiRaya.com) : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda mulai mempersiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2027. Salah satu langkah yang dilakukan yakni melatih 40 guru jenjang SD dan SMP agar menyusun soal melalui Training of Trainers (ToT).

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Kota Samarinda, Mohammad Wahiduddin mengatakan, puluhan guru yang mengikuti pelatihan tersebut dipilih berdasarkan potensi dan kemampuan mereka. Dari 40 peserta, sebanyak 12 orang merupakan guru SMP, sedangkan sisanya berasal dari jenjang SD.

“Hari ini kami ada kegiatan ToT penulisan soal Tes Kemampuan Akademik. Kami memilih guru-guru potensial sebanyak 40 orang dari SD dan SMP,” kata Wahiduddin saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi bagian dari persiapan lebih awal agar siswa tidak asing dengan karakter dan variasi soal ketika menghadapi TKA 2027.

Soal yang dihasilkan para guru setelah mengikuti ToT nantinya akan digunakan dalam simulasi di sekolah-sekolah. Disdikbud Samarinda merencanakan sekitar empat hingga enam kali simulasi hingga April 2027.

“Tujuannya mempersiapkan TKA 2027 supaya anak-anak siap sejak dini. Soal-soal yang diproduksi guru setelah ToT akan disimulasikan di semua sekolah,” ujarnya.

Selain simulasi yang disiapkan Disdikbud, sekolah juga dapat menggelar latihan secara internal. Dengan pola tersebut, siswa diharapkan semakin memahami bentuk dan variasi soal berdasarkan kisi-kisi TKA 2027.

“Dengan enam skema simulasi ditambah simulasi internal sekolah, kami berharap anak-anak sudah memahami bentuk dan variasi soal sesuai kisi-kisi TKA 2027,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, persiapan menghadapi TKA tersebut tidak diikuti perubahan kurikulum. Sekolah tetap menggunakan kurikulum nasional yang berlaku.

Di tengah persiapan TKA, Disdikbud Samarinda juga menghadapi keterbatasan anggaran. Wahiduddin mengakui efisiensi berdampak terhadap kegiatan di Bidang Pembinaan SMP, terlebih jika dibandingkan dengan kondisi anggaran pada 2025.

“Kalau ditanya berpengaruh, pasti berpengaruh. Dibandingkan dengan 2025 mungkin sangat jauh berkurang. Tetapi bagaimana kami mengoptimalkan anggaran yang ada,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Disdikbud harus menyusun skala prioritas terhadap program yang akan dilaksanakan. Kegiatan dipetakan berdasarkan tingkat kepentingannya agar program yang dinilai paling mendesak tetap berjalan.

Meski ruang anggaran menyempit, dirinya menegaskan kegiatan yang menjadi wadah pengembangan prestasi siswa tetap diupayakan terlaksana. Di antaranya Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N), serta Gala Siswa Indonesia (GSI).

“Kami berupaya semuanya tetap berlangsung. OSN sudah selesai sampai tingkat nasional dan anak-anak kita ada yang juara nasional. O2SN juga ada yang juara nasional, begitu pula FLS3N,” ungkapnya.

Sementara untuk GSI, Samarinda berhasil meraih juara pada tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Menurutnya, tidak seluruh kabupaten dan kota mengikuti kompetisi tersebut.

Pada kategori putri, kompetisi disebut hanya diikuti Samarinda dan Balikpapan. Hasil tersebut membuka jalan bagi perwakilan Samarinda untuk melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional.

Ia menyebut capaian tersebut perlu dipertahankan. Terlebih, Samarinda memiliki catatan prestasi sebagai runner-up tingkat nasional pada 2024.

Karena itu, keterbatasan anggaran diharapkan tidak memutus pembinaan maupun kesempatan siswa untuk berprestasi. Disdikbud akan mencari berbagai solusi agar program pembinaan tetap berjalan meskipun harus dilakukan dengan anggaran terbatas.

“Kami tetap mencari solusi penganggaran supaya prestasi anak-anak terus berkembang dan jangan sampai stagnan. Ini benar-benar untuk masa depan anak-anak kita,” pungkasnya. (*Yud)



Pasang Iklan
Top