
Kepala Bidang Pemasaran Dispar Kukar, Awang Ivan Ahmad.(Foto: Andri/KutaiRaya.com)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Pengembangan pariwisata di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya bertumpu pada destinasi wisata. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar juga mendorong geliat event di tingkat kecamatan dan desa sebagai bagian dari upaya memperluas daya tarik wisata sekaligus membuka ruang kreativitas masyarakat.
Kepala Bidang Pemasaran Dispar Kukar, Awang Ivan Ahmad, mengatakan penyelenggaraan event tahunan dapat menjadi salah satu cara setiap wilayah untuk memperkenalkan karakter dan potensi lokal kepada masyarakat luas.
Menurutnya, sejumlah kecamatan seperti Sangasanga, Samboja, Kota Bangun, dan Tabang telah menunjukkan konsistensi dalam menggelar kegiatan tahunan. Pola tersebut diharapkan dapat diikuti kecamatan lainnya sehingga aktivitas pariwisata tidak hanya terpusat di kawasan tertentu.
“Event-event daerah, terutama yang digelar untuk memperingati hari jadi kecamatan, sangat efektif menarik perhatian masyarakat dan peserta. Sayangnya, saat ini baru beberapa kecamatan saja yang rutin melakukannya,” ujar Awang Ivan, Selasa (29/9/2026).
Ia menilai event juga memiliki fungsi penting sebagai ruang ekspresi bagi masyarakat. Bahkan, wilayah yang belum memiliki destinasi wisata unggulan tetap dapat menghadirkan atraksi melalui kreativitas masyarakatnya.
“Kalau tidak ada event, di mana lagi mereka bisa tampil dan menunjukkan kemampuannya? Ini peluang yang perlu terus diciptakan,” katanya.
Potensi tersebut, lanjut dia, terlihat dalam Festival Pelajar yang digelar pada 2022. Saat itu, pelajar asal Kecamatan Muara Kaman turut ambil bagian dengan menampilkan tari tradisional hingga menciptakan lagu khusus untuk kegiatan tersebut.
Bagi Dispar Kukar, kreativitas semacam itu merupakan modal penting dalam membangun atraksi wisata berbasis masyarakat. Event tidak sekadar menjadi agenda hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan seni, budaya, dan identitas masing-masing daerah.
Dari sisi pembiayaan, Awang Ivan menyebut sejumlah wilayah mulai mampu mengembangkan event secara mandiri. Kota Bangun, misalnya, telah memanfaatkan anggaran desa untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Sementara Samboja dan Tabang masih memperoleh dukungan dari pihak eksternal, tetapi mampu menggelar kegiatan dalam skala besar, termasuk menghadirkan artis nasional.
“Ini menunjukkan bahwa event bisa menjadi kontribusi nyata desa untuk kemajuan daerahnya,” jelasnya.
Di Sangasanga, kegiatan tahunan juga terus dikembangkan melalui berbagai agenda, termasuk pameran. Dispar Kukar turut memberikan dukungan berupa fasilitas penunjang seperti panggung.
Dukungan lintas sektor juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Salah satunya pada pelaksanaan Eroh Sabintulung di Muara Kaman yang memperoleh bantuan pembiayaan dari Dinas Pendidikan.
Awang Ivan mendorong kecamatan maupun desa yang memiliki kemampuan anggaran agar dapat mengoptimalkan sumber pembiayaan yang tersedia. Wilayah yang berada di sekitar perusahaan juga dapat membangun kolaborasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Event adalah bagian dari atraksi dalam konsep pariwisata. Kalau atraksinya menarik, tentu orang akan tertarik datang. Tapi harus juga didukung oleh aksesibilitas dan amenitas seperti penginapan,” terangnya.
Menurutnya, keberadaan akomodasi menjadi salah satu faktor penting agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga memiliki kesempatan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di daerah tujuan wisata.
Sejumlah kecamatan telah memiliki fasilitas penginapan. Namun, beberapa desa wisata masih menghadapi keterbatasan. Kedang Ipil, misalnya, memiliki potensi wisata alam seperti air terjun, tetapi kebutuhan akomodasi masih banyak mengandalkan rumah warga secara informal.
Karena itu, Dispar Kukar mendorong pengelolaan homestay di desa wisata secara lebih terarah. Penguatan fasilitas tersebut diharapkan dapat melengkapi atraksi wisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
“Ke depan, kami berharap ada upaya serius mengelola homestay di desa-desa wisata agar pengunjung bisa nyaman dan tinggal lebih lama. Ini penting untuk mendukung pertumbuhan pariwisata dan ekonomi lokal,” ungkapnya.
Dengan penguatan event, atraksi lokal, aksesibilitas, dan amenitas secara bersamaan, setiap kecamatan dan desa di Kukar diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan karakter wisatanya masing-masing serta ikut mengambil bagian dalam pertumbuhan sektor pariwisata daerah. (Adv/Dri)