• Jum'at, 25 September 2026
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur



Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda.(Foto : Andri/KutaiRaya.com)


TENGGARONG, (KutaiRaya.com): Panggung pertunjukan di Kutai Kartanegara (Kukar) kini tidak hanya menjadi tempat menampilkan karya seni dan hiburan. Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar mendorong setiap event menjadi ruang tumbuh bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf), komunitas, dan usaha masyarakat agar aktivitas budaya turut menciptakan pergerakan ekonomi di daerah.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Dispar Kukar dalam menjalankan program di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Setiap kegiatan diarahkan agar memiliki manfaat yang lebih luas, mulai dari penguatan budaya lokal hingga membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan efisiensi justru mendorong pihaknya untuk lebih selektif dalam menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Sejumlah event telah terlaksana pada 2026, di antaranya Reggae Fest di Taman Musik Tenggarong dan Festival Cerau Menamang. Selanjutnya, Dispar Kukar menyiapkan sejumlah agenda lain, termasuk kegiatan di kawasan pesisir dan Koba Fest.

“Yang sudah terlaksana itu Reggae Fest kemarin di Taman Musik, kemudian Festival Cerau Menamang. Keduanya sudah selesai. Berikutnya kemungkinan Pesisir dengan Koba Pes,” kata Zikri Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, kegiatan lain tetap dimungkinkan digelar dengan mempertimbangkan waktu, efektivitas, dan kemampuan anggaran. Prinsipnya, Dispar ingin memastikan anggaran yang tersedia benar-benar memberikan manfaat.

“Kalau yang lain masih melihat waktu dan efektivitasnya. Kita juga menyesuaikan karena anggaran yang tersedia seperti itu,” jelasnya.

Tidak berhenti pada penyelenggaraan event, Dispar Kukar juga mulai menjalankan program Stimulus Ekonomi Kreatif yang masuk dalam program dedikasi Kukar Idaman Terbaik 2026.

Pada tahun pertama, disiapkan anggaran Rp200 juta untuk dua komunitas kreatif. Masing-masing komunitas berpeluang memperoleh dukungan hingga Rp100 juta.

Bantuan tersebut dapat diberikan dalam bentuk uang maupun barang, sesuai kebutuhan dan proposal pembiayaan yang diajukan. Program ini menyasar komunitas atau pelaku ekraf yang memiliki legalitas serta kegiatan yang berdampak terhadap pengembangan ekosistem kreatif di lingkungannya.

“Pemerintah bisa memberi bantuan sebanyak Rp100 juta per pelaku atau komunitas kreatif. Bantuan bisa berupa uang atau barang sesuai proposal pembiayaan yang mereka ajukan,” ujarnya.

Zikri menyebut program tersebut merupakan bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan ekraf sebagai salah satu sektor yang dapat memperkuat perekonomian masyarakat.

Dispar Kukar telah menyelesaikan kajian mekanisme pemberian insentif dan selanjutnya akan melakukan sosialisasi kepada pelaku ekraf melalui pusat pelayanan ekonomi kreatif.

Jika pada 2026 baru dua komunitas yang mendapat dukungan dalam DPA, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 10 bantuan pada 2027.

“Di 2026 baru dua bantuan komunitas kreatif di DPA kami. Di 2027 target 10 bantuan mulai aktif,” sebutnya.

Program tersebut terbuka bagi berbagai subsektor ekraf, mulai kuliner, kriya, fashion, musik, film, fotografi, desain komunikasi visual hingga aplikasi.

Zikri menegaskan, efisiensi anggaran tidak boleh menghilangkan substansi pembangunan. Justru setiap rupiah harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Harapannya dengan efisiensi yang baik, kita memaksimalkan anggaran yang dipercayakan pemerintah semaksimal mungkin, sepraktis mungkin, dan bisa mengangkat budaya, perekonomian, khususnya ekonomi kreatif di daerah,” pungkasnya. (Adv/Dri)



Pasang Iklan
Top