
Pembukaan Seminar Internasional dan Pertemuan Nasional Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama PTKIN se-Indonesia di Balikpapan, Rabu (23/9/2026) malam.(Foto: Sulastri/KutaiRaya.com)
BALIKPAPAN, (KutaiRaya.com): Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) didorong memperluas kolaborasi lintas perguruan tinggi hingga mitra internasional. Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi menghasilkan program konkret bagi mahasiswa dan pengembangan akademik.
Dorongan itu mengemuka dalam Seminar Internasional dan Pertemuan Nasional Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama PTKIN se-Indonesia di Balikpapan, Rabu (23/9/2026) malam.
Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo mengatakan, forum tersebut menjadi ruang untuk menyamakan persepsi, sekaligus merumuskan rekomendasi pengembangan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
“Pemkot mengapresiasi pertemuan ini karena menjadi bagian dari upaya menyamakan persepsi. Mudah-mudahan rekomendasi yang dibahas nantinya bisa memberikan hal positif untuk perguruan tinggi, masyarakat maupun daerah,” kata Bagus.
Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan, terlebih Kalimantan Timur kini berada dalam kawasan strategis seiring pemindahan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
Karena itu, Bagus menilai akses masyarakat untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi perlu terus diperkuat. Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu membuka jaringan lebih luas, agar mahasiswa memiliki kesempatan memperoleh pengalaman dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan global.
“Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, masyarakat harus memiliki kesempatan untuk terus bersekolah sampai jenjang perguruan tinggi,” ujarnya.
Bagus mengatakan pemerintah daerah dapat menjadi salah satu mitra perguruan tinggi dalam memperkuat sektor pendidikan. Kerja sama juga dapat diperluas dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota, dunia usaha hingga mitra luar negeri.
“Perguruan tinggi sebenarnya lebih fleksibel. Bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi, pemerintah kota maupun kabupaten, bahkan kalau lebih luas bisa melakukan kerja sama dengan pihak luar negeri,” jelasnya.
Di Balikpapan, Pemkot juga berupaya mendukung keberlanjutan pendidikan generasi muda melalui program beasiswa. Bagus menyebut mahasiswa UINSI Samarinda turut menjadi bagian dari penerima fasilitas program Gratispol yang merupakan program Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Pemkot Balikpapan juga tetap menyediakan beasiswa bagi mahasiswa asal daerah tersebut.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UINSI Samarinda, Prof. Dr. H. M. Abzar, M.Ag., mengatakan pertemuan tersebut diarahkan untuk memperkuat jejaring kerja sama antar-PTKIN, termasuk dengan perguruan tinggi di luar negeri.
Menurut Abzar, forum tersebut dirangkai dengan seminar internasional dengan menghadirkan akademisi dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Prof. Madya Dr. Sofia Hayati Yusof dan Dr. Safiyyah.
“Kami ingin berbagi pengalaman dengan wakil dekan di perguruan tinggi Islam Indonesia terkait program kerja sama yang kami lakukan, baik secara nasional maupun internasional,” katanya.
UINSI Samarinda sendiri telah membangun kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Malaysia, salah satunya Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kerja sama dengan USIM juga akan diperpanjang dan dikembangkan.
Abzar mengatakan, kolaborasi ke depan diarahkan pada program yang lebih konkret, mulai dari pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen hingga penelitian bersama.
“Penekanan dalam kerja sama luar negeri terkait dengan program ke depan yang bisa dikerjasamakan antara perguruan tinggi agama Islam di Indonesia dengan UKM dan USIM seperti pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen dan penelitian bersama atau kolaborasi penelitian,” jelasnya.
Menurut dia, kerja sama tersebut telah mulai menghasilkan program nyata. Pada tahun lalu dan tahun ini, terdapat mahasiswa UINSI Samarinda yang mengikuti kegiatan perkuliahan di UKM.
Ke depan, ruang kolaborasi juga akan diperluas hingga melibatkan mitra luar negeri dalam kegiatan akademik yang lebih spesifik, termasuk pengembangan kerja sama dalam ujian tesis dan disertasi.
“Kalau dulu mungkin kami belum melibatkan pihak luar saat misalnya ujian tesis atau disertasi, dan tahun ini yang akan kami kembangkan sampai ke sana,” ujarnya.
Abzar berharap forum nasional tersebut menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan menjadi instrumen kolaborasi antarperguruan tinggi. Dengan begitu, kerja sama yang dibangun tidak sekadar memperluas jaringan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa, dosen dan pengembangan riset. (Las)